Syiar Ramadan: Tiga Tingkatan Akhlak dalam Perspektif Islam

  • 07 Mar 2026 16:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Musyrif Tahfidzul Qur’an SD IT Vinca Rosea Tahfizh International Lhokseumawe, Khairunnasri menjelaskan pentingnya memahami tingkatan akhlak dalam kehidupan seorang muslim. Menurutnya, pemahaman tersebut membantu manusia menentukan sikap yang tepat dalam berbagai situasi kehidupan.

Ia mengatakan dalam perspektif Islam terdapat tiga tingkatan akhlak yang perlu dipahami oleh setiap muslim. Tingkatan tersebut menjadi pedoman agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan sikap yang membawa kebaikan bagi sesama.

Khairunnasri menjelaskan tingkatan akhlak paling dasar adalah kemampuan seseorang menahan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain. Sikap tersebut mencakup menjaga ucapan, perbuatan, serta tindakan yang dapat mendatangkan mudarat bagi sesama.

“Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan muslim yang lain dari gangguan lidah dan tangannya. Serta orang yang hijrah adalah orang-orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah,” kata Khairunnasri mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim saat menyampaikan Syiar Ramadan Jelang Berbuka Pro 3 RRI, di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Menurutnya, apabila seseorang mampu mengamalkan akhlak paling dasar tersebut, kehidupan sosial akan menjadi lebih damai. Sikap menahan diri dari perbuatan buruk dinilai dapat mencegah konflik serta berbagai tindakan yang merugikan orang lain.

Selanjutnya, ia menjelaskan tingkatan kedua dari akhlak yakni perbuatan yang bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Pada tingkatan ini seseorang tidak hanya menahan diri dari perbuatan buruk, tetapi juga berusaha memberikan manfaat kepada orang lain.

Sikap tersebut menunjukkan kualitas akhlak yang lebih tinggi dalam kehidupan seorang muslim. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, yakni ‘sebaik-baik iman seorang muslim adalah yang baik akhlaknya’.

Menurutnya, akhlak yang baik akan tercermin dari sikap seseorang yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Hal tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dari kualitas keimanan seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian, Khairunnasri mengungkapkan tingkatan akhlak paling tinggi adalah kemampuan membuat orang lain merasa senang dan bahagia. Ia mencontohkan sikap tersebut dari masyarakat Madinah ketika menerima kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah.

Dalam peristiwa tersebut, kaum Anshar menunjukkan sikap mengutamakan kepentingan orang lain meskipun mereka juga membutuhkan. Khairunnasri mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 9 yang menggambarkan sikap kaum Anshar.

“Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung,” ujarnya.

Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan tingkat akhlak tertinggi yang dapat menciptakan kebahagiaan bagi orang lain. Nilai tersebut diharapkan dapat menjadi teladan bagi umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menilai apabila umat Islam mampu mengamalkan minimal akhlak paling dasar, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih harmonis. Dengan sikap menahan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain tersebut dinilai dapat menciptakan lingkungan sosial yang lebih damai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....