Berbuka dengan yang Manis, Benarkah Disunahkan? Ketahui Penjelasannya

  • 19 Feb 2026 16:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Anjuran berbuka puasa dengan yang manis kerap diyakini sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Namun, ungkapan tersebut ternyata bukan berdasarkan dari hadits yang secara langsung diriwayatkan dari Rasulullah SAW.

Meski demikian, Rasulullah SAW memang mencontohkan berbuka dengan kurma atau air putih. Dalam riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, Nabi berbuka dengan kurma basah, kurma kering, atau beberapa teguk air.

Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi:

عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل ان يصلى فان لم يكن رطبات فتمرات فان لم يكن تمرات حسا حسوات من ماء رواه أحمد وأبو داود والترمذي

An ‘Anas bin Malik qāla: kāna an-nabiyyu shallallāhu ‘alaihi wasallam yuftiru ‘alā ruthabātin qabla an yushallī, fa in lam yakun ruthabāt fa tamarāt, fa in lam yakun tamarāt ḥasā ḥasawātin min mā’in.

Artinya: “Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa kurma matang dan basah (ruthob) sebelum melaksanakan shalat. Kalau tidak ada kurma basah, maka Rasulullah SAW berbuka dengan kurma kering (tamr). Bila tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air.”(HR Ahmad, Abu Dāwud, at-Tirmiżī)

Memahami hadits tersebut, para ulama memandang kesunahan berbuka dengan kurma karena sifat manisnya. Muhammad Ali as-Syaukani dalam Nailul Authar menjelaskan:

وإذا كانت العلة كونه حلوا والحلو له ذلك التأثير فليحق به الحلويات كلها، أما ما كان أشد منه في الحلاوة فبفحوى الخطاب وما كان مساويا له فبلحنه

Artinya: “Kalau illat (sebab) disunnahkan berbuka dengan kurma itu karena manisnya (dan sifat manis itu menjadi sebab pokok/primer buka puasa Rasulullah SAW dengan kurma), maka bentuk makanan dan minuman manis lainnya juga tergolong kategori berbuka puasa berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. Kalau misalnya ada makanan yang lebih manis dari kurma, maka ulama menggunakan fahwal khithab (qiyas di mana yang tidak disebut di nash al-Quran/hadits lebih kuat daripada yang disebutkan di nash). Tetapi kalau makanan dan minuman itu setara manisnya dengan kurma, maka ulama menggunakan lahnul khithab (qiyas dimana yang tidak disebut di nash al-Quran/hadits setara dengan yang disebut di nash).”

Sementara itu, al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar al-Masyhur dalam Bughyatul Mustarsyidin memberikan rincian sebagai berikut:

فائِدةٌ : يُسَنُّ لِمَنْ لَمْ يُفْطِرْ على تَمْرٍ أنْ يُفْطِرَ على الماء وكونهُ ماءَ زَمْزَمَ أولى وَبَعْدَهُ الحلوُ وهو ما لمْ تمسُّهُ النَّارُ كالزَّبيبِ والعسلٍ واللّبنِ وهو أفضلُ من العسلِ واللّحمُ أفضلُ منهما ثُمَّ الحلوى المعمولةُ بالنَّارِ

Artinya: “Sunnah berbuka dengan air bagi orang yang tidak berbuka dengan kurma. Air yang paling utama adalah air zam-zam, kemudian sesuatu yang manis yang tidak dimasak dengan api. Seperti anggur, madu, susu yang mana lebih baik dari madu, dan daging yang lebih baik dari keduanya. Kemudian makanan manis yang dimasak dengan api.”

Dengan demikian, berbuka dengan air putih sudah mendapatkan kesunahan Nabi SAW apabila tidak ada kurma. Untuk makanan manis, lebih diutamakan yang tidak dimasak, seperti susu, madu, atau buah-buahan, sedangkan makanan manis yang dimasak dianjurkan didahului dengan air agar tetap memperoleh kesunahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....