Mengenal Ruwahan, Tradisi Orang Betawi jelang Ramadan

  • 12 Feb 2026 15:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang datangnya bulan Ramadan, masyarakat di berbagai daerah Indonesia memiliki tradisi khas masing-masing. Salah satunya adalah ruwahan, tradisi masyarakat Betawi yang masih dilestarikan hingga kini.

Tradisi ini umumnya digelar pada bulan Syaban sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan. Selain bernuansa religius, ruwahan juga sarat nilai kebersamaan serta penghormatan kepada leluhur.

Berbeda dengan tradisi penyambutan Ramadan di daerah lain, ruwahan memadukan unsur doa, silaturahmi, serta kegiatan sosial. Tradisi ini masih dapat dijumpai di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan kawasan sekitar yang memiliki komunitas Betawi kuat.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, ruwahan mencerminkan cara masyarakat Betawi menjaga hubungan keluarga, lingkungan, serta nilai spiritual. Berikut penjelasan mengenai rangkaian dan makna tradisi ruwahan jelang Ramadan:

Doa bersama dan pengajian

Ruwahan biasanya diawali dengan pengajian keluarga dan tetangga. Kegiatan ini meliputi pembacaan Yasin, tahlil, serta doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.

Tradisi ini menjadi sarana mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Tradisi ini juga mengingatkan pentingnya meningkatkan amal ibadah menjelang Ramadan.

Keyakinan menyambut arwah leluhur

Sebagian masyarakat Betawi memaknai ruwahan sebagai momen mengenang leluhur. Tradisi ini dipercaya sebagai cara simbolis menyambut kedatangan roh orang tua atau nenek moyang yang menengok keluarga.

Maknanya bukan sekadar kepercayaan saja. Ruwahan juga pengingat agar generasi penerus tetap menghormati sejarah keluarga.

Ziarah kubur dan kegiatan kebersihan lingkungan

Setelah doa bersama, sebagian keluarga melanjutkan dengan ziarah kubur. Kegiatan ini diiringi tradisi bersih-bersih lingkungan sebagai bentuk kesiapan menyambut bulan suci.

Tradisi mandi air merang

Di penghujung rangkaian ruwahan, terdapat tradisi mandi menggunakan air rendaman arang batang padi atau merang. Meski tidak semua keluarga melakukannya, tradisi ini masih dikenal dalam budaya Betawi.

Makan bersama hidangan khas Betawi

Acara ruwahan biasanya dilengkapi makan bersama keluarga dan tetangga yang menjadi sarana mempererat silaturahmi . Menu yang disajikan sering berupa makanan khas Betawi seperti ketupat sayur, semur, asinan, dan kue tradisional.

Berbagi sembako kepada tetangga

Salah satu ciri khas ruwahan adalah berbagi bahan kebutuhan pokok yang mencerminkan nilai syukur sekaligus gotong royong. Pembagian sembako dilakukan sesuai kemampuan sebagai bentuk kepedulian sosial menjelang Ramadan.

Secara umum, ruwahan memiliki makna spiritual dan sosial yang kuat. Tradisi ini menjadi pengingat untuk meningkatkan ibadah, mempererat hubungan keluarga, serta berbagi kepada sesama sebelum memasuki bulan puasa.

Selain itu, ruwahan juga menjadi cara masyarakat Betawi menjaga identitas budaya di tengah modernisasi. Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai religius, penghormatan leluhur, dan solidaritas sosial tetap relevan hingga sekarang.

Dengan memahami ruwahan, masyarakat dapat melihat kekayaan tradisi lokal dalam menyambut Ramadan. Nilai kebersamaan, rasa syukur, serta kepedulian sosial menjadi pesan utama yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....