Museum Wayang Banyumas Kenalkan Beragam Koleksi Wayang

  • 15 Agt 2026 10:08 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Museum Wayang Banyumas menjadi salah satu ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal beragam jenis wayang dan sejarah bangunan yang menjadi tempat penyimpanannya.

Registrar Museum Wayang Banyumas, Gilang Eka S mengatakan, bangunan museum sebelumnya merupakan Pendopo Paseban yang digunakan sebagai tempat transit tamu sebelum bertemu dengan bupati.

Bangunan tersebut hingga kini masih mempertahankan sejumlah bagian aslinya, termasuk empat pilar utama pendopo. Museum Wayang Banyumas memiliki beragam koleksi, mulai dari wayang kulit purwa, wayang golek purwa, wayang golek menak, wayang potehi, wayang santri, wayang suluh atau wayang prajurit, wayang krucil, wayang suket, hingga wayang beber.

Koleksi tersebut memiliki latar cerita dan fungsi yang berbeda, sehingga memberikan pengetahuan baru bagi pengunjung. Gilang menjelaskan, wayang golek purwa mengangkat cerita Ramayana dan Mahabharata, sedangkan wayang golek menak berkaitan dengan kisah dan ajaran agama Islam.

Sementara itu, wayang potehi berasal dari tradisi Cina, wayang santri berkaitan dengan penyebaran agama Islam, dan wayang suluh atau prajurit menggambarkan cerita pada era kolonial.

“Pengunjung tahunya sebelum datang ke museum wayang itu ya hanya wayang kulit, wayang golek seperti itu. Tapi ternyata setelah datang ke museum wayang banyak yang teredukasi disitu, jadi tujuan pendahulu untuk mendidikan musim wayang itu tepat sasaran, jadi untuk mengedukasi seperti itu," katanya.

Selain koleksi wayang, museum juga menyimpan belencong atau lampu yang digunakan dalam pagelaran wayang pada zaman dahulu, serta alat untuk pembuatan wayang. Museum juga memiliki enam tokoh wayang Banyumasan yang menjadi ciri khas daerah dan tidak ditemukan di daerah lain.

Salah satunya Bawor yang telah dikenal luas sebagai simbol atau maskot Kabupaten Banyumas. Untuk menjaga koleksi, pengunjung kini tidak diperbolehkan memainkan gamelan maupun menaiki panggung museum. Aturan tersebut diterapkan karena gamelan dan panggung merupakan bagian dari koleksi yang harus dilestarikan. (Dina Darozatun)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....