Laut Kita Hari Ini, Warisan untuk Generasi Nanti
- 09 Jun 2026 13:32 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Deru ombak di pesisir selatan Cilacap tak pernah benar-benar berhenti. Setiap pagi, nelayan berangkat melaut dengan harapan membawa hasil tangkapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Laut bukan hanya hamparan air asin yang membentang luas, tetapi sumber kehidupan bagi ribuan warga pesisir. Dari sanalah roda ekonomi bergerak, meja makan terisi, dan harapan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Momentum Hari Laut Sedunia menjadi pengingat bahwa laut tidak hanya memberi manfaat, tetapi juga membutuhkan perhatian serius. Di Kabupaten Cilacap, wilayah yang sebagian besar kehidupannya bersentuhan langsung dengan kawasan pesisir, ancaman terhadap keberlanjutan laut mulai terasa nyata.
Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Achmad Hadiyanto, S.Kep.Ns., M.M, menggambarkan bahwa kekayaan laut Cilacap sebenarnya masih sangat besar. Berdasarkan data perikanan tangkap, potensi hasil laut di wilayah ini mencapai sekitar 865 ribu ton per tahun.
Salah satu komoditas dominan adalah ikan tongkol, yang menjadi hasil tangkapan utama nelayan. Angka itu menunjukkan betapa laut Cilacap masih menjadi lumbung penghidupan masyarakat.
Namun di balik besarnya potensi tersebut, tersimpan ancaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Fenomena overfishing atau penangkapan ikan secara berlebihan menjadi salah satu tantangan serius.
Aktivitas kapal penangkap ikan, baik skala kecil maupun besar, perlahan memberi tekanan terhadap keseimbangan ekosistem laut. Bila tidak diatur secara berkelanjutan, kondisi ini berpotensi mengurangi populasi ikan dan mengancam mata pencaharian nelayan lokal.
Di Cilacap, berbagai langkah kolaboratif mulai dijalankan. Dinas Perikanan menggandeng berbagai pihak, mulai dari lembaga pendidikan, komunitas masyarakat, hingga dunia usaha melalui program CSR.
Salah satu program yang dikembangkan adalah “Negeri Segoro”, yang mendorong pelestarian kawasan pesisir melalui penanaman mangrove guna menahan abrasi sekaligus menjaga habitat biota laut. Program lain juga menyasar pelestarian terumbu karang dan pengurangan sampah di laut.
Tak kalah penting, kelompok nelayan juga dilibatkan secara aktif melalui pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Mereka menjadi mata dan telinga dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut, sekaligus membantu mengawasi praktik-praktik yang dapat merusak lingkungan perairan.
Bagi Hadi, menjaga laut harus dimulai dari tindakan sederhana. Mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan pesisir, hingga membangun kesadaran bersama bahwa laut bukanlah tempat pembuangan akhir.
Bagi Prof. Dr. Ir. Isdi Sulistyo, DEA, akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman, persoalan laut sejatinya berakar pada pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Laut memiliki fungsi yang jauh melampaui sektor perikanan. Laut menjadi sumber oksigen, jalur transportasi, hingga benteng alami terhadap dampak perubahan iklim global.
Dalam banyak kasus, laut bekerja seperti buffer zone, menyerap tekanan lingkungan yang terjadi di bumi. Namun kemampuan laut untuk bertahan bukan tanpa batas.
Jika pencemaran terus terjadi tanpa pengendalian, ekosistem laut di pesisir selatan Jawa dikhawatirkan akan mengalami gangguan serius. Ikan-ikan berpotensi menjauh ke tengah laut akibat polusi, sehingga nelayan tradisional harus melaut lebih jauh dengan biaya lebih besar dan risiko yang meningkat.
Dampaknya bukan hanya ekonomi, ketika laut tercemar, efeknya dapat menjalar ke pantai, muara, hingga aliran sungai. Kerusakan ekosistem menjadi persoalan lintas wilayah yang menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.
Karena itu, menurutnya upaya menjaga laut tidak cukup hanya mengandalkan regulasi pemerintah. Pesan itu terasa semakin relevan ketika berbicara tentang masa depan.
Generasi muda hari ini mungkin tumbuh di tengah perubahan zaman, teknologi, dan pola hidup yang berbeda dibanding 20 tahun lalu. Tetapi satu hal tetap sama: mereka tetap membutuhkan laut yang sehat.
Pendidikan lingkungan harus menjadi investasi jangka panjang agar generasi mendatang memahami nilai strategis laut. Pada akhirnya, laut bukan hanya soal ikan, kapal, atau garis pantai laut adalah tentang keberlanjutan hidup.
Tentang bagaimana manusia memperlakukan alam yang selama ini memberi banyak manfaat. ebab jika laut hari ini rusak, generasi nanti mungkin hanya akan mewarisi cerita tentang betapa kayanya laut Indonesia dulu.
Tetapi jika laut dijaga mulai sekarang, anak cucu kelak masih bisa mendengar suara ombak yang sama dengan kehidupan yang tetap tumbuh di dalamnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....