Psikolog UMP: Kualitas Hidup Tidak Selalu Soal Kemewahan
- 27 Mei 2026 08:21 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Kualitas hidup tidak selalu diukur dari kemewahan, jabatan, maupun kemampuan memenuhi gengsi sosial. Kebahagiaan dan kualitas hidup justru dapat dibangun dari kemampuan menerima diri, memiliki tujuan hidup, serta menjaga kesehatan mental di tengah berbagai keterbatasan.
Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Imam Faizal Hamzah, S.Psi., M.A., saat menjawab pertanyaan pendengar bernama Anisa dalam program Ruang Psikologi di Programa 1 RRI Purwokerto,beberapa hari lalu.
Dalam kesempatan itu, Anisa menceritakan dirinya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dengan kondisi keluarga yang sedang mengalami tekanan ekonomi dan sosial. Ia mengaku baru lulus SMA, sementara kedua adiknya masih duduk di bangku SD dan SMP setelah orang tuanya bercerai dan sang ibu bekerja sebagai buruh rumah tangga.
Menanggapi hal tersebut, Imam mengatakan kondisi hidup yang berat memang dapat memunculkan tekanan mental, rasa minder, hingga kekhawatiran terhadap masa depan. Namun menurutnya, seseorang tetap dapat memiliki kualitas hidup yang baik apabila mampu membangun makna hidup dan tidak menjadikan gengsi sebagai ukuran kebahagiaan.
“Dalam psikologi ada istilah harga diri. Harga diri yang sehat bukan hanya soal bagaimana kita menghargai diri sendiri, tetapi juga bagaimana kita menerima kondisi diri secara realistis tanpa harus membandingkan hidup dengan orang lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan banyak orang terjebak pada tekanan sosial untuk terlihat berhasil atau terlihat mapan di mata orang lain. Padahal, kondisi tersebut sering kali hanya menjadi “cover” yang tampak baik di permukaan tetapi tidak benar-benar meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Menurut Imam, kualitas hidup justru dapat dibangun dari hal-hal sederhana seperti memiliki hubungan keluarga yang sehat, menjaga kesehatan mental, serta tetap memiliki harapan dan tujuan hidup meski dalam keterbatasan ekonomi.
Ia menilai kondisi yang dialami Anisa bukan akhir dari masa depan, melainkan fase kehidupan yang perlu dihadapi secara bertahap dan realistis. Menurutnya, seseorang tidak harus langsung berhasil besar untuk dapat hidup bahagia dan bermakna.
“Kadang kita terlalu sibuk memikirkan standar hidup orang lain, padahal kualitas hidup itu soal apakah kita bisa tetap sehat mental, tetap punya harapan, dan tetap berjalan meski pelan,” katanya.
Imam juga menekankan pentingnya memperkuat kontrol diri dan fokus pada tujuan hidup jangka panjang. Ia menyarankan generasi muda yang sedang menghadapi tekanan ekonomi untuk lebih memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan yang hanya didorong gengsi sosial.
Selain itu, ia mengingatkan agar seseorang tidak merasa rendah diri hanya karena berasal dari keluarga sederhana. Menurutnya, banyak individu berhasil membangun kehidupan yang lebih baik karena mampu bertahan, disiplin, dan terus belajar dari kondisi hidup yang sulit.
Dalam dialog tersebut, Imam turut mencontohkan bahwa hidup sederhana bukan berarti gagal atau tidak bahagia. Ia mengatakan kebahagiaan sering kali hadir ketika seseorang mampu menerima hidupnya dan menjalani proses kehidupan dengan penuh makna.
“Kalau hidup sederhana itu dijalani dengan tujuan yang jelas, justru bisa membuat seseorang lebih tenang dan bahagia,” ujarnya.
Ia juga mendorong anak muda untuk membuka ruang diskusi dengan keluarga maupun lingkungan terdekat ketika menghadapi tekanan mental. Menurutnya, dukungan sosial menjadi salah satu faktor penting untuk membantu seseorang tetap kuat menghadapi masalah kehidupan.
Program Ruang Psikologi tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi bagi masyarakat mengenai pentingnya membangun kualitas hidup berdasarkan kesehatan mental dan penerimaan diri, bukan sekadar mengejar validasi maupun gengsi sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....