Ibadah Haji: Perjalanan Fisik dan Transformasi Spiritual

  • 21 Mei 2026 07:22 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju tanah suci, melainkan sebuah perjalanan rohani mendalam yang mampu mengubah cara pandang serta sikap hidup seorang muslim. Melalui rangkaian ritual yang dijalani, jemaah diajarkan tentang nilai kepasrahan, keikhlasan, dan ketaatan total kepada Sang Pencipta guna mencapai predikat haji yang mabrur.

Ustaz Drs. K.H. Ahmad Kifni memaparkan beberapa poin utama tinjauan aspek rohaniah dalam ibadah haji saat menjadi narasumber program Mutiara Pagi Pro1 RRI Purwokerto, Kamis (7/5/2026). Poin pertama adalah istitha'ah atau kemampuan, yang mencakup kesiapan dana, kesehatan dan ilmu.

Selain itu, ibadah haji mengajarkan jemaah untuk menghadapi tantangan berat dengan hati yang ringan dan nikmat, serta pentingnya menjaga kesehatan sebagai modal utama beribadah secara maksimal. "Nilai rohaniah haji yang sangat krusial adalah ikhlas, perintah haji dalam Al-Qur'an menyebutkan kata 'lillah' atau 'karena Allah' sebanyak dua kali, yang berarti memerlukan jernihnya hati dan ketulusan tanpa pamrih," ujar Ustaz Kifni sapaan akrab beliau.

Lebih lanjut, Ustadz Kifni menjelaskan bahwa haji memiliki dimensi sosial yang kuat melalui kebersamaan dalam regu, rombongan, dan wukuf bersama jutaan umat Islam lainnya. Hal ini mengajarkan pentingnya ukhuwah, larangan bertengkar (wala jidala), serta kesiapan dalam berbekal dan berilmu.

Ia menekankan bahwa setiap langkah ibadah harus didasari pada pengetahuan manasik agar amal yang dilakukan bersifat ilmiah dan sesuai syariat. Dalam sesi tanya jawab bersama pendengar, Ustadz Kifni juga memberikan kebesaran jiwa bagi calon jemaah yang berangkat secara mendadak atau belum sempat mengikuti manasik secara penuh.

Menurutnya, ilmu bisa dipelajari sambil berjalan dengan cara bertanya kepada pembimbing atau rekan satu rombongan. Terkait aspek finansial, ia juga menjelaskan kedudukan haji dengan biaya pinjaman, yang secara hukum diperbolehkan asalkan jemaah memiliki kemampuan serta agunan yang jelas untuk melunasinya.

Sebagai pesan penutup, Kifni mengingatkan bahwa keberhasilan ibadah haji tercermin dari meningkatnya kualitas hubungan sosial jamaah setelah kembali ke tanah air. "Setelah beribadah haji, aspek hablum minannas atau hubungan dengan sesama manusia harus semakin baik, itulah tanda haji yang mabrur dan totalitas dalam berIslam," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....