Komunitas Lingkungan Purwokerto: Bergerak Nyata Lawan Krisis Iklim
- 29 Apr 2026 10:25 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Keresahan terhadap kondisi bumi yang semakin panas dan masalah sampah yang tak kunjung usai memicu lahirnya berbagai komunitas lingkungan di Purwokerto dan sekitarnya. Gerakan kolektif ini tidak hanya berfokus pada aksi bersih-bersih sampah, tetapi telah berkembang menjadi sarana edukasi gaya hidup minim sampah (zero waste) hingga advokasi ekonomi hijau demi menekan dampak buruk perubahan iklim di tingkat lokal.
Pernyataan tadi disampaikan Hana Fadia Handoyo selaku founder Bumi Kasih dalam program SPADA yang disiarkan Pro 2 FM RRI Purwokerto, Jumat (24/4/2026). Hana memaparkan bahwa eksistensi komunitas lingkungan di wilayah Banyumas terus bertumbuh sejak tahun 2021.
Beberapa komunitas aktif seperti World Cleanup Day (WCD) Banyumas, Earth Hour, Comot (komunitas tukar barang), hingga Green Economy On menjadi bukti meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap isu lingkungan. Ia menjelaskan bahwa sampah plastik dan krisis iklim menjadi isu sentral yang paling sering diangkat.
| Baca juga: Kurban di Era Digital: Mendidik Empati Siswa |
Alasan utama anak muda bergabung dalam gerakan ini adalah keresahan nyata terhadap perubahan lingkungan yang mereka rasakan sehari-hari. "Berawal dari keresahan kita merasakan sendiri dunia makin panas, sungai kotor, dan sampah berserakan di mana-mana. Hal ini yang membuat kita ingin kondisi bumi jadi lebih baik," ujar Hana..
Aksi yang dilakukan komunitas pun kini kian beragam dan kreatif. Selain rutin mengadakan bersih-bersih sampah di tingkat RT/RW se-Banyumas, terdapat pula kegiatan seperti nonton film tentang dampak krisis iklim, sharing space mengenai penggunaan pembalut kain, hingga tantangan gaya hidup ramah lingkungan melalui program Green Minds Gathering.
TANTANGAN DAN DUKUNGAN
Meskipun didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas melalui koordinasi rutin, gerakan ini tetap menghadapi tantangan besar. Hana mengungkapkan bahwa tantangan terberat seringkali datang dari lingkungan terdekat atau keluarga yang belum menganggap penting langkah kecil seperti memilah sampah dan mengompos.
"Tantangannya justru dari orang terdekat karena ini sesuatu hal yang belum wajar. Banyak yang menganggap langkah ini terlalu kecil untuk mengubah dunia," ungkapnya. Namun, ia menekankan bahwa strategi paling efektif adalah dengan memberikan contoh nyata ( role model) di lingkungan terkecil.
Hana juga menyoroti peran vital media sosial sebagai platform edukasi di era digital. Melalui konten kreatif, komunitas berusaha menjangkau audiens yang lebih luas untuk meningkatkan kesadaran publik.
Sebagai langkah awal bagi anak muda yang ingin berkontribusi, Hana menyarankan untuk memulai dari kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan wadah makanan saat jajan, dan membawa botol minum (tumbler).
Ia berharap sinergitas antara komunitas, pemerintah, dan lembaga seperti RRI terus terjaga agar gerakan ini tetap berjalan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....