Dampak Musim Kemarau, Petani Cabai di Banjarnegara Terancam Gagal Panen

  • 21 Sep 2026 11:45 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara – Di tengah tingginya harga cabai di pasaran, petani cabai di Kabupaten Banjarnegara, justru menghadapi ancaman gagal panen.

Kemarau panjang membuat tanaman cabai yang siap dipanen mengalami kekeringan. Sebagian tanaman bahkan layu dan mati karena kekurangan air.

Kondisi tersebut terlihat di lahan milik Kelompok Tani Nandurasa, Desa Majalengka, Kecamatan Bawang, Banjarnegara.

Petani cabai, Ahmad Kosim, mengatakan sumber air di sekitar lahan mulai mengering akibat kemarau yang berlangsung panjang.

“Airnya semakin sulit. Sumber-sumber air banyak yang mengering, sehingga kami kesulitan menyiram tanaman,” ujar Ahmad.

Menurut dia, bantuan distribusi air bersih yang ada saat ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sementara petani harus mencari sumber air sendiri untuk menyelamatkan tanaman.

Selain banyak tanaman yang layu dan mati, tanaman yang masih bertahan juga tidak lagi produktif. Bunga cabai mulai tidak muncul sehingga petani khawatir tidak ada buah baru yang dapat dipanen.

Sementara buah cabai yang masih tersisa di tanaman tumbuh kerdil dan layu sehingga tidak diminati pasar.

Kondisi tersebut membuat petani khawatir mengalami kerugian besar jika dalam waktu dekat tidak mendapatkan pasokan air.

Berbagai upaya dilakukan petani untuk mempertahankan tanaman cabai, mulai dari membuat tempat penampungan air hingga menyedot air dari sungai.

Upaya itu tetap dilakukan meski menambah biaya produksi. Petani berharap tanaman yang masih bertahan dapat diselamatkan hingga masa panen.

Namun, kondisi sungai yang menjadi salah satu sumber air petani kini juga mulai mengering. Para petani harus bergantian mengambil air karena jumlah petani yang membutuhkan air cukup banyak.

Akibatnya, tidak semua lahan dapat diairi secara rutin. Tanaman cabai pun semakin terancam mengalami kerusakan.

Petani berharap pemerintah segera memberikan solusi, salah satunya melalui pembangunan sumur bor atau pipanisasi dari sumber mata air yang berada di kaki bukit.

“Kalau bisa ada sumur bor atau pipanisasi, sangat membantu kami,” kata Ahmad.

Menurut petani, sumber air yang masih tersedia berada cukup jauh, yakni sekitar tujuh kilometer dari lahan. Jarak tersebut membuat petani kesulitan mengaksesnya secara mandiri.

Bagi petani, ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan panen. Jika tanaman dapat diselamatkan dan cabai bisa dipanen, pasokan cabai ke pasar diharapkan tetap terjaga sehingga harga dapat lebih stabil. (jkw)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....