KAI Janji Kembalikan Eks Stasiun Banjarnegara ke Bentuk Semula

  • 17 Sep 2026 16:33 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara - Setelah mendapatkan surat permohonan penghentian pembongkaran Eks Stasiun Banjarnegara dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, PT KAI Daop V bergerak cepat melaksanakan Join Inspection Pekerjaan Renovasi Bangunan Pusat Pelayanan Optimalisasi Aset Wilayah Banjarnegara, Kamis 17 September 2026.

Kegiatan dihadiri oleh pihak PT KAI, Dinparbud Banjarnegara dan TACB Banjarnegara di lokasi pembongkaran. Dalam kegiatan itu Assistant Manager Penertiban dan Penanganan Aset Bermasalah PT KAI DAOP V Wahyu Wijatmoko mengungkapkan pihaknya akan tunduk pada aturan yang berlaku dan akan mengembalikan bentuk pintu stasiun yang telah dibongkar ke bentuk semula.

"Kami mohon maaf atas kekeliruan kami, dan kami akan perbaiki segera mengikuti prosedur yang berlaku. Rencana kami akan membangun Pusat Pelayanan Optimalisasi Aset Wilayah Banjarnegara. Agar para penyewa aset PT KAI tidak perlu mengurus ke Purwokerto, tapi cukup di Banjarnegara. Nanti ada kantor pusat pelayanan, mushola, dan toilet," jelas Wahyu.

Untuk mengembalikan ke bentuk semula dan juga proses pemugaran lain, pihak PT KAI akan menunggu konsultasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah dan juga bersurat ijin ke Bupati Banjarnegara. Direncanakan BPK Jawa Tengah akan hadir melakukan peninjauan Senin mendatang.

Ketua TACB Banjarnegara Heni Purwono mengaku senang dengan sikap kooperatif PT KAI. Menurutnya Eks Stasiun Banjarnegara adalah aset bersama yang harus dijaga keasliannya karena nilai sejarahnya yang sangat penting.

"Ini bukan sekadar stasiun pemberhentian kereta api. Ada sejarah transportasi dan juga sejarah penting lain seperti kereta SDS merupakan urat nadi mengapa pergerakan Syarikat Islam tumbuh pesat di Banjarnegara. Juga tentang sejarah komoditas perkebunan di kawasan tengah Banjarnegara. Jangan sampai generasi mendatang buta akan sejarah kotanya," ujar Heni.

Heni bahkan menawarkan andai PT KAI mau menggandeng komunitas sejarah, maka banyak peluang untuk mengembangkan stasiun ini sebagai pusat sejarah kereta api SDS.

"Kami baru saja berangan-angan kemarin dengan adanya peringatan 130 tahun SDS yang digelar teman-teman BHHC di Purwokerto. Ke depan stasiun ini bisa menjadi cagar budaya nasional dan ada arsip Memori Kolektif Bangsa tentang SDS. Kalau semua berkolaborasi, pasti hal itu bisa dilaksanakan," ujar Heni.

Mewakili Kabid Kebudayaan Dinparbud Banjarnegara, Pamong Budaya Khotijah menandaskan pihaknya tidak melarang pemugaran dan pemanfaatan cagar budaya asalkan sesuai kaidah.

"Kita senang kalau bangunan ini akan diaktifkan kembali karena kalau dibiarkan kosong juga malah rusak. Namun tetap tidak boleh mengubah bentuk bangunan. Apa lagi pintu utama kantor stasiun kan seperti ikon stasiun ini. Akan menjadi hilang bukti dan nilai sejarahnya kalau dibongkar," ujar Khotijah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....