Erupsi Kecil Gunung Api Dinilai Wajar, Slamet Masih Anteng

  • 16 Sep 2026 22:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Masyarakat diminta tidak panik berlebihan menghadapi aktivitas vulkanik atau erupsi kecil pada gunung api aktif. Aktivitas tersebut masih tergolong normal karena menjadi salah satu cara gunung api melepaskan energi dari dalam secara bertahap.

Ahli Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Yogi Adi Prasetya, mengatakan erupsi kecil atau yang sering disebut gunung api sedang “batuk-batuk” tidak selalu menjadi tanda akan terjadi erupsi besar.

“Kalau masih dalam range yang kecil itu tidak perlu dikhawatirkan terlalu berlebihan. Itu memang sesuatu yang wajar di gunung api yang masih aktif,” kata Yogi kepada RRI, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, erupsi kecil justru lebih baik karena energi yang tersimpan di dalam gunung dapat dikeluarkan secara perlahan. Sebaliknya, jika tekanan magma terus tertahan, energi tersebut dapat dilepaskan secara tiba-tiba dan memicu erupsi yang lebih besar.

"Gunung api itu lebih baik sering erupsi kecil-kecil daripada tidak pernah erupsi tapi sekali meledak langsung besar. Artinya, energi yang tertahan di bawah permukaan dikeluarkan secara perlahan," ujar Yogi.

Yogi mengatakan, setiap gunung api memiliki karakter dan periode erupsi yang berbeda. Ada gunung yang mengalami erupsi setiap beberapa tahun, sementara gunung lainnya memiliki periode hingga puluhan tahun.

Meski erupsi kecil merupakan hal yang normal, masyarakat tetap perlu mengetahui tanda ketika aktivitas gunung mulai meningkat. Salah satu tanda yang paling jelas adalah meningkatnya kegempaan vulkanik.

“Kalau gunung yang mungkin biasanya anteng, tiba-tiba ada aktivitas kegempaan vulkanik, itu mungkin bisa jadi salah satu pertanda bahwa akan ada erupsi,” ucapnya.

Selain kegempaan, perubahan kondisi mata air juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Mata air yang tiba-tiba menjadi lebih hangat atau mengering, serta satwa yang turun dari lereng gunung, dapat menjadi indikasi adanya perubahan aktivitas di dalam gunung.

Peningkatan frekuensi dan intensitas erupsi juga perlu diwaspadai. Menurut Yogi, perubahan dari kondisi yang sebelumnya relatif tenang menjadi lebih sering mengalami erupsi dapat menunjukkan adanya peningkatan aktivitas.

Untuk kondisi gunung api di Jawa Tengah, Yogi mengatakan sejauh ini belum terdapat peningkatan aktivitas yang signifikan. Gunung Slamet yang paling dekat dengan wilayah Banyumas juga masih berada pada Level II atau Waspada.

Yogi menyebut Gunung Slamet selama ini memiliki karakter aktivitas yang relatif tenang dengan erupsi kecil yang terjadi secara berkala. Lontaran material vulkanik maupun aliran lava yang pernah terjadi juga masih berada di sekitar kawasan kawah.

"Gunung Slamet ini karakternya anteng (tenang). Sejak dicatat oleh Belanda pada tahun 1772, belum pernah ada rekam jejak bahaya aliran piroklastik yang sampai ke area permukiman kota. Karakteristiknya lebih ke erupsi tipe strombolian yang dampaknya terbatas di sekitar kawah," ucap Yogi.

Kendati demikian, Yogi meminta masyarakat tetap mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui sumber resmi, seperti PVMBG, BPBD, dan BNPB. Masyarakat juga disarankan mengamankan dokumen penting dan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah antisipasi

“Amankan dokumen-dokumen penting di tempat yang tahan bencana serta menyiagakan tas siaga bencana yang berisi bahan makanan, air minum, obat-obatan, dan barang darurat lainnya yang siap dibawa saat evakuasi,” ucap Yogi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....