Bank Street Bung Karno, Wisata Kuliner yang Menarik

  • 13 Sep 2026 07:33 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kawasan wisata Bank Street atau BST di Jalan Bung Karno kini jadi daya tarik kuliner baru di Banyumas, digagas untuk menampung korban PHK dan pengangguran yang kini bisa menafkahi keluarga lewat berdagang. Hal tersebut disampaikan Ketua Paguyuban UMKM Bank Street (BST), Ardi Siswanto.

Ia menjelaskan konsep dagang diatur pengurus paguyuban: lapak trotoar wajib jual kopi, lapak “lapak merah” jual kopi plus menu lain dengan mendoan wajib ada, dan setiap lapak tidak boleh sama menunya.

“Aneka makanan di situ menunya nggak cuma sepuluh tapi ratusan, dan harganya maksimal itu dua puluh, karena konsep kami memang untuk makanan yang dijangkau oleh rakyat Banyumas,” katanya.

Konsep ini, kata Ardi, sudah didukung langsung Bupati Banyumas, sejalan dengan tiga misi paguyuban: mengurangi pengangguran, mengentaskan kemiskinan, dan memastikan rakyat asli Banyumas tak kesulitan mencari nafkah. Seluruh pedagang juga telah menandatangani kesepakatan tertulis bermaterai untuk menjaga kebersihan, dengan setiap keputusan diambil lewat musyawarah bersama anggota, bukan sepihak oleh ketua.

Di sisi lain, Ardi menyoroti minimnya dukungan modal. Empat tahun berjalan, belum ada bantuan dana dari pemerintah pusat meski program bantuan UMKM kerap digembor-gemborkan.

“Kita pelaku UMKM menengah ke bawah, masalah bantuan modal sampai detik ini belum ada satu pun yang dermawan seperti itu. Kita sudah berjalan empat tahun, belum pernah ada anggaran dari pemerintah pusat, jadi ini pure semata-mata digotong bareng dengan anggota,” ucapnya.

Ardi berharap ada dukungan masyarakat agar wisata ini makin ramai pengunjung, serta perhatian pemerintah daerah agar kawasan ini terus berkembang, bukan stagnan seperti empat tahun terakhir. Terakhir, ia menitipkan harapan agar pedagang trotoar tetap “diuwongke” atau dimanusiakan sebagai pelaku UMKM, terutama soal rencana relokasi dari pemerintah daerah.

“Kalau dari sini pindah ke lokasi pemerintah tapi tidak ada omset, untuk apa? Yang saya harapkan pemerintah daerah lebih memperhatikan yang di trotoar itu. Kalau sudah pantas sesuai wisata, gausah dibongkar, bila perlu diperbaiki supaya bagus, biar kesan pengunjung ke menara itu ada,” pungkas Ardi. (Siti Nuriyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....