Mengenal Kembali Bangunan Heritage Purwokerto lewat Pemodelan 3D

  • 12 Sep 2026 08:12 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Sejumlah bangunan cagar budaya di Purwokerto kini mulai kehilangan jejak fisiknya, salah satunya Stasiun Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) atau yang dikenal masyarakat sebagai Stasiun Timur. Mengatasi hal tersebut, sebuah workshop rekayasa digital digelar untuk mengajak generasi muda merekonstruksi dan mendigitalkan kembali bangunan bersejarah yang telah hilang dalam bentuk model 3D.

Pemateri Workshop, Ernest Kurniawan mengatakan, program ini memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memodelkan kembali sisa-sisa sejarah berdasarkan arsip dan foto zaman dulu. Upaya ini difokuskan pada bangunan Stasiun Timur Purwokerto agar masyarakat dapat mengenang serta mengenal kembali bentuk fisik bangunan heritage tersebut secara utuh.

“Dengan teknologi yang ada sekarang, kita bisa memodelkan kembali bangunan-bangunan yang sudah hilang untuk dijadikan model 3D berdasarkan foto dan arsip. Kebetulan sesuai tema BHW yang mengangkat SDS, kami ingin mendigitalkan Stasiun Timur supaya masyarakat Purwokerto bisa mengenang kembali bentuk bangunannya,” ujar Ernest di Purwokerto.

Menurut Ernest, metode pengenalan sejarah berbasis 3D memiliki keunggulan dibanding media konvensional. Jika arsip gambar atau foto hanya menawarkan sudut pandang yang terbatas, pemodelan 3D memungkinkan pengguna menjelajahi fisik bangunan secara interaktif hingga 360 derajat.

Ia juga mengapresiasi antusiasme peserta yang didominasi oleh mahasiswa arsitektur. Menurutnya, metode seperti ini sangat memungkinkan untuk terus dikembangkan dalam upaya konservasi digital cagar budaya di kawasan Banyumas ke depannya.

Pengalaman berharga tersebut turut dirasakan oleh salah satu peserta workshop, Ulhaq. Mahasiswa prodi Arsitektur ini mengaku baru pertama kali mencoba metode rekonstruksi bangunan 3D berbasis foto lampau.

Ulhaq mengungkapkan, tantangan paling menarik selama kegiatan berlangsung adalah ketika peserta harus memprediksi dan menentukan ukuran presisi bangunan di AutoCAD menggunakan objek patokan dari foto bersejarah.

“Yang paling menarik itu pas menentukan ukuran bangunan di AutoCAD berdasarkan foto zaman dulu. Patokannya misal dari skala ukuran rel kereta, lalu kita sesuaikan ke panjang, lebar, dan tinggi bangunannya,” kata Ulhaq.

Sebelum mengikuti workshop, Ulhaq mengaku tidak tahu bahwa di lokasi tersebut dulunya berdiri sebuah stasiun bersejarah, sebab area tersebut kini telah tertutup oleh bangunan-bangunan baru.

Ia menilai, metode belajar seperti ini jauh lebih efektif dan interaktif dibandingkan hanya membaca buku teori atau sekadar melihat foto lama. Lewat pengalaman ini, dirinya mengaku semakin tertarik untuk mendalami berbagai sejarah daerah di Banyumas yang belum terungkap. (Fahira Dinda)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....