Seni Tradisi Banyumas Didorong Tetap Relevan di Era Kini
- 02 Sep 2026 16:22 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Kesenian tradisional Banyumas terus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas mendorong seniman melakukan pembaruan dalam penyajian tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitas kesenian tersebut.
Sekretaris Umum Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas Jarot C. Setyoko mengatakan, kesenian tradisional perlu diberi ruang untuk berkembang. Menurutnya, seni tradisi tidak harus selalu ditampilkan dengan bentuk yang sama seperti pada masa lalu.
“Yang tradisional itu harus bisa menyesuaikan dengan konteks zaman. Kalau orang Jawa bilang, pada masa saya belajar perjalanan dulu, harus menyesuaikan dengan keadaan zaman,” kata Jarot saat memberikan sambutan dalam pementasan Daglung bertajuk “Dadhung Kepuntir” di Aula SMP Negeri 5 Purwokerto.
Jarot menjelaskan, Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas menjadi wadah pengembangan berbagai bidang kesenian di daerah. Organisasi serupa juga terdapat di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi.
Ia mengibaratkan Dewan Kesenian dengan organisasi yang menaungi bidang tertentu, seperti KNPI di bidang kepemudaan, KONI di bidang olahraga, dan Pramuka di bidang kepelajaran.
Di Banyumas, Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas dipimpin Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono sebagai ketua umum, sedangkan Jarot menjabat sebagai sekretaris umum.
Menurut Jarot, sejumlah program Dewan Kesenian Banyumas diarahkan untuk mempertemukan kesenian tradisional dengan pendekatan kontemporer. Upaya tersebut dilakukan agar kesenian daerah tetap relevan dan lebih mudah diterima generasi muda.
Salah satunya melalui pengembangan sendratari. Kesenian yang berakar dari tradisi tersebut dikemas dengan menggabungkan gerak, musik, koreografi, dan tata pertunjukan yang lebih modern.
“Walaupun tradisional, tetapi sudah ada sentuhan kontemporer. Para seniman yang bergabung juga berasal dari banyak sanggar yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas,” ujarnya.
Jarot juga terlibat sebagai salah satu pemain dalam pementasan sendratari tersebut. Selain sendratari, Dewan Kesenian Banyumas mengembangkan fragmen tari ebeg. Meski masih mempertahankan nuansa tradisional, kesenian tersebut mendapat pembaruan dalam koreografi, musik, dan konsep pertunjukan.
“Penampakannya memang masih seperti tradisional, tetapi setelah kita lihat ternyata berbeda. Itu yang kita sebut dengan fragmen tari,” katanya.
Pengembangan juga dilakukan terhadap wayang Banyumasan. Jarot menyebut sejumlah dalang telah melakukan penggarapan dan inovasi terhadap pertunjukan tersebut, di antaranya Bima Putra, Dukuh Bayu Aji, Yakut, Panji, serta sejumlah dalang lainnya.
Sementara, pementasan Daglung oleh Teater Samudra menjadi salah satu contoh kesenian tradisional yang dikembangkan dengan pendekatan kontemporer.
Jarot mengatakan sendratari, fragmen tari ebeg, wayang Banyumasan, dan Daglung sama-sama memiliki akar tradisi. Perbedaannya, keempat kesenian tersebut mendapatkan sentuhan penggarapan baru agar lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat dan selera penonton saat ini.
“Keempat bentuk kesenian ini berakar dari kesenian tradisional, tetapi sudah melalui konsep jarak atau kontemporer. Jadi sudah agak berbeda karena ada sentuhan modern yang kita lakukan,” jelasnya.
Bawa Seni Banyumas ke Jakarta
Upaya memperluas pengenalan seni Banyumas juga dilakukan dengan melibatkan seniman dan generasi muda dalam kegiatan berskala nasional.
Jarot mengungkapkan, dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas membawa sekitar 100 anak Banyumas yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa untuk tampil di Jakarta.
Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kesenian Banyumas kepada masyarakat di luar daerah.
“Alhamdulillah, pementasan itu setidaknya bisa menimbulkan pertanyaan bagi orang luar daerah. Artinya, sudah ada sesuatu yang berhasil kita lakukan,” ujarnya.
Ia menilai, munculnya ketertarikan masyarakat luar daerah menunjukkan bahwa kesenian Banyumas tetap memiliki daya tarik ketika dikemas secara tepat.
Menurut Jarot, tantangan kesenian tradisional saat ini bukan hanya mempertahankan keberadaannya, tetapi juga memastikan kesenian tersebut tetap hidup dan dapat diterima generasi baru.
Karena itu, inovasi dinilai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan seni tradisional. Akar budaya tetap dipertahankan, sementara bentuk penyajian dapat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, musik, koreografi, dan kebutuhan penonton.
Dekatkan Seni Tradisi dengan Generasi Muda
Pementasan “Dadhung Kepuntir” menjadi salah satu bentuk upaya mendekatkan kembali kesenian tradisional dengan generasi muda. Melalui Teater Samudra, kesenian yang berakar dari tradisi dikemas dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan penonton masa kini.
Jarot berharap langkah tersebut dapat menjadi jembatan antara kesenian masa lalu dan generasi sekarang. Dengan begitu, kesenian tradisional tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.
“Melalui Teater Samudra ini kita berharap kesenian yang ada di masa lalu bisa mendekat kembali kepada generasi sekarang,” katanya.
Ia juga mengapresiasi SMP Negeri 5 Purwokerto yang telah memberikan ruang bagi pementasan. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam mengenalkan seni dan budaya kepada generasi muda.
Pementasan tersebut dihadiri tokoh masyarakat, seniman, pelaku teater, pemusik, serta masyarakat. Jarot berharap kegiatan serupa terus digelar sebagai ruang pertemuan antara seniman, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat.
Ia menilai keberlanjutan kesenian Banyumas membutuhkan upaya bersama untuk menjaga akar tradisi sekaligus membuka ruang bagi pembaruan.
Dengan cara tersebut, kesenian tradisional diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus berkembang dan memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....