Jejak Perang Diponegoro di Banyumas
- 31 Agt 2026 14:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas- Nama Pangeran Diponegoro sangat dikenal masyarakat Banyumas. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa wilayah Banyumas pernah menjadi medan pertempuran pasukan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.
Fakta sejarah itu terungkap dalam acara “Bedah Kisah Perang Diponegoro di Banyumas” yang digelar Bale Babad Banyumas bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Minggu (30/8/2026), di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Purwokerto.
Budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun, atau akrab disapa Kang Nass, mengungkapkan terdapat sedikitnya tiga naskah yang memuat kisah Perang Diponegoro di wilayah Banyumas.Ketiganya yakni Babad Banyumas Wirjaatmadjan, Babad Banyumas Tjakrawedanan, dan Babad Diponegoro Manado.
Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Out of The Boox 2026 tersebut, Kang Nass memilih Babad Banyumas Wirjaatmadjan sebagai sumber utama pembahasan.Menurutnya, naskah karya Patih Purwokerto Raden Aria Wirjaatmadjan tersebut tidak sekadar berisi cerita rakyat, tetapi mencatat peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Banyumas.
Untuk menunjukkan sumber aslinya, Kang Nass menampilkan naskah Babad Banyumas Wirjaatmadjan dalam aksara Latin Jawa di layar. Peserta kemudian diajak membaca sekaligus memahami isi naskah tersebut.Dari naskah itu diketahui, salah satu pertempuran terjadi ketika pasukan Pangeran Diponegoro yang dipimpin putranya, Pangeran Suryaatmadja, menyerang wilayah Banyumas.
Pertempuran pecah di Purwareja, Klampok, hingga Banjarnegara. Pasukan Kabupaten Banyumas mengalami kekalahan dan mundur ke Sokawera, sebelum membangun pertahanan di Lemahputih.
Menariknya, pasukan Diponegoro tidak langsung menyerang. Mereka menunggu datangnya hari Pahing yang dalam kepercayaan masyarakat saat itu dianggap sebagai hari sial bagi orang Banyumas.
Namun sebelum hari yang ditunggu tiba, pasukan dari Keraton Surakarta datang menyerang. Pasukan tersebut dipimpin Pangeran Kusumoyudo, paman Raja Surakarta.Karena kalah jumlah, pasukan Diponegoro akhirnya meninggalkan Somagede dan melarikan diri menuju wilayah selatan melalui kawasan pegunungan.
Kang Nass mengaku telah menelusuri sejumlah lokasi yang disebut dalam naskah untuk menemukan jejak keberadaan pasukan Diponegoro.Salah satunya berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Tamanan, Somagede. Nama Tamanan berkaitan dengan keberadaan sebuah kolam besar yang terbentuk dari aliran sungai yang dibendung.
Kolam tersebut diyakini menjadi salah satu sumber air untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan minum para prajurit Diponegoro ketika bermarkas di kawasan tersebut.Jejak sejarah itu juga masih terlihat dari keberadaan keturunan prajurit Diponegoro yang memilih bersembunyi dan menetap di Somagede setelah pasukan lainnya melarikan diri.
Menurut Kang Nass, jejak Perang Diponegoro tidak hanya berada di wilayah Banyumas yang sekarang. Pertempuran juga terjadi di Widarapayung dan Adireja, yang kini masuk Kabupaten Cilacap.
Pertempuran di Widarapayung dan Adireja berlangsung sengit. Pasukan Diponegoro dipimpin Tumenggung Banyak Wide, sedangkan pasukan Kabupaten Banyumas dipimpin Bupati Ayah, Tumenggung Dipayuda.Tumenggung Dipayuda kemudian diangkat Belanda menjadi Bupati Banjarnegara setelah Perang Diponegoro berakhir.
Kang Nass menjelaskan, hubungan sejarah tersebut juga berkaitan dengan Raden Arya Wirjaatmadjan, penulis Babad Banyumas Wirjaatmadjan.Tumenggung Dipayuda memiliki adik bernama Raden Dipadiwirya yang kemudian menjadi Patih Banjarnegara. Raden Arya Wirjaatmadjan merupakan putra Raden Dipadiwirya.
Karena itu, menurut Kang Nass, sangat mungkin kisah Perang Diponegoro dalam Babad Banyumas Wirjaatmadjan bersumber dari penuturan ayahnya yang memiliki hubungan langsung dengan pelaku sejarah.
“Maka, kalau ada yang mengatakan Babad Banyumas adalah dongeng, perlu membaca Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Karena isinya betul-betul catatan sejarah,” kata Kang Nass.
Paparan tersebut mendapat perhatian peserta yang berasal dari berbagai usia dan latar belakang. Selain mendengarkan cerita, peserta juga diajak melihat langsung naskah dan lokasi yang berkaitan dengan Perang Diponegoro.
Salah seorang peserta, Irwan Saputro, mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.“Saya baru tahu kalau ternyata Perang Diponegoro pernah terjadi di Banyumas. Karena selama ini saya mengiranya terjadi di wilayah Jogjakarta saja,” ujarnya.
Peserta berharap kajian tersebut dapat dilanjutkan dengan membahas sumber sejarah lainnya, seperti Babad Banyumas Tjakrawedanan dan Babad Diponegoro.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....