Geliat Ketahanan Pangan di Nusakambangan, dari Budidaya Sidat hingga Cetak Sawah B

  • 13 Agt 2026 15:07 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Cilacap: Pulau Nusakambangan di Kabupaten Cilacap mulai menunjukkan wajah baru. Selain dikenal sebagai kawasan pemasyarakatan bagi warga binaan, wilayah ini kini dikembangkan menjadi salah satu kawasan pendukung ketahanan pangan melalui program pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Pengembangan sektor pangan tersebut terlihat dalam kunjungan DPR RI Komisi XIII ke Nusakambangan, Rabu (12/8/2026). Sejumlah komoditas dikembangkan, mulai dari peternakan sapi dan unggas, budidaya ikan, hingga pengembangan lahan pertanian.

Salah satu komoditas yang menjadi unggulan adalah budidaya ikan sidat. Anggota DPR RI Komisi XIII, Yanuar Arif, mengatakan pengembangan sidat di Nusakambangan telah menjadi proyek berskala besar dengan target pembangunan sekitar 1.000 kolam.

Menurutnya, budidaya sidat tersebut memiliki potensi untuk berkembang menjadi salah satu industri sidat terbesar di Asia. Selain sidat, kawasan Nusakambangan juga mengembangkan budidaya udang vaname serta tambak ikan bandeng dan nila.

“Budidaya ikan sidat menjadi salah satu proyek berskala besar. Targetnya hampir mencapai 1.000 kolam dan memiliki potensi untuk berkembang menjadi industri sidat terbesar di Asia,” kata Yanuar.

Pengembangan ketahanan pangan juga dilakukan melalui pencetakan sawah baru seluas kurang lebih 60 hektare di wilayah Selopajung. Selain itu, terdapat pengembangan perkebunan singkong yang direncanakan diolah menjadi tepung dan mocaf.

Sektor peternakan turut menjadi bagian dari program tersebut melalui pengembangan ayam dan bebek. Hasil pengembangan berbagai sektor pangan itu juga didukung dengan pengolahan pupuk untuk menunjang keberlanjutan kegiatan pertanian dan peternakan.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah, Mardi Santoso, mengatakan potensi lahan di Nusakambangan masih sangat besar untuk dikembangkan. Dari total luas wilayah sekitar 12 ribu hektare, saat ini baru sekitar 2 ribu hektare yang dimanfaatkan.

“Sekitar 12 ribu hektare, saat ini baru dimanfaatkan sekitar 2 ribu hektare. Hal ini menandakan masih luasnya potensi yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan,” ujar Mardi.

Ia menjelaskan, pengembangan ketahanan pangan juga menjadi bagian dari program pembinaan bagi warga binaan. Pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian, peternakan dan perikanan memberikan ruang bagi warga binaan untuk mendapatkan keterampilan produktif sebagai bekal setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Mardi menambahkan, program ketahanan pangan di Nusakambangan terus mengalami peningkatan setiap tahun. Penyediaan lokasi pembinaan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pelaksanaan program pemasyarakatan, termasuk melalui kegiatan di sektor ketahanan pangan.

Dengan luas lahan yang masih tersedia, Nusakambangan dinilai memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan berbagai komoditas pangan sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan. (Girinda Fatihu Risqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....