Kemarau Kering di Banyumas Raya Berpotensi Tingkatkan Risiko ISPA

  • 12 Agt 2026 10:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Musim kemarau di wilayah Banyumas Raya tahun ini berlangsung lebih awal dan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan berbagai dampak lingkungan dan kesehatan, salah satunya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat meningkatnya debu dan menurunnya kualitas udara.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi Stasiun Meteorologi Kelas II Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo. Ia mengatakan musim kemarau di wilayah Banyumas Raya sudah mulai dirasakan sejak Mei, lebih awal dibandingkan pola yang biasanya terjadi pada Juni.

Selain datang lebih awal, musim kemarau tahun ini juga memiliki karakteristik yang lebih kering karena curah hujan berada di bawah normal. Menurut Teguh, kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh fenomena El Nino yang turut menyebabkan berkurangnya curah hujan dan membuat musim kemarau menjadi semakin kering.

“Dampaknya luas, terkait dengan pertanian, kemudian kebakaran lahan, dan yang tidak kalah penting adalah risiko kesehatan seperti adanya ISPA,” ujarnya.

BMKG memprakirakan Agustus menjadi puncak musim kemarau di wilayah Banyumas Raya. Durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung sekitar 3,5 hingga 4 bulan.

Saat ini, sejumlah wilayah Banyumas telah mengalami 31 hingga 60 hari tanpa hujan, yang masuk dalam kategori hari tanpa hujan sangat panjang. Sementara di sejumlah wilayah Cilacap, periode tanpa hujan bahkan telah mencapai lebih dari 60 hari sehingga masuk kategori kekeringan ekstrem.

Kondisi kemarau kering juga berdampak terhadap kualitas udara. Teguh menjelaskan, minimnya curah hujan membuat proses alami pencucian atmosfer tidak berlangsung optimal.

Hujan sejatinya membantu membersihkan partikel debu yang berada di atmosfer. Namun, ketika hujan jarang terjadi, debu dari permukaan tanah lebih mudah tetap melayang di udara.

“Karena tidak ada hujan, debu masih melayang-layang di udara sekitar. Ini juga cenderung meningkatkan kondisi lingkungan yang tidak bagus untuk kesehatan, terutama untuk ISPA,” jelasnya.

Selain minimnya hujan, kelembapan udara yang relatif rendah membuat permukaan tanah semakin kering. Partikel tanah kemudian lebih mudah terlepas menjadi debu ketika tertiup angin.

Kondisi tersebut diperburuk oleh angin yang dapat membawa partikel debu ke berbagai wilayah. Paparan debu dan kualitas udara yang menurun menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu diwaspadai masyarakat selama puncak musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....