UMP Hidupkan Gagasan Margono dan Sumitro untuk Ekonomi Kerakyatan
- 12 Agt 2026 10:37 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Pemikiran dua tokoh ekonomi nasional asal Banyumas, Raden Mas Margono Djojohadikusumo dan Prof. Sumitro Djojohadikusumo, kembali diangkat Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sebagai pijakan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan.
Gagasan keduanya diterjemahkan UMP melalui sejumlah program pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM, hingga kajian kebijakan publik.
Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, mengatakan pemikiran Margono dan Sumitro tidak seharusnya hanya menjadi bagian dari catatan sejarah. Nilai yang mereka perjuangkan, menurutnya, perlu diterapkan dalam bentuk program yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Jebul dalam pemaparannya bertajuk “Menghidupkan Spirit Margono dan Sumitro Sebagai Pilar Keadilan Sosial”. Ia menyebut Banyumas memiliki karakter masyarakat yang dikenal dengan nilai blakasuta, yakni egaliter, lugas, dan menjunjung keadilan sosial. Nilai tersebut turut mewarnai pemikiran Margono dalam memperjuangkan ekonomi rakyat.
Margono Djojohadikusumo dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian Bank Negara Indonesia (BNI) dan turut mendorong gerakan koperasi. Perhatiannya terhadap masyarakat kecil, terutama petani dan pedagang, menjadi bagian dari gagasannya mengenai pentingnya kemandirian ekonomi.
Menurut Jebul, UMP berupaya menjadikan pemikiran Margono dan Sumitro sebagai rujukan dalam menjalankan sejumlah program pemberdayaan. Salah satunya melalui Rumah Bertumbuh Indonesia (RBI), yang membantu masyarakat menghadapi persoalan akses permodalan sekaligus memberikan pendampingan agar dapat mengembangkan usaha secara mandiri.
UMP juga memberikan perhatian kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan melalui program beasiswa dan pemberdayaan sosial. Di sektor UMKM, kampus mengembangkan Rumah UMKM sebagai wadah pendampingan pelaku usaha mikro untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas akses pasar.
Program tersebut sejalan dengan pemikiran Sumitro Djojohadikusumo mengenai pentingnya memperkuat ekonomi rakyat. Penguatan itu tidak hanya berkaitan dengan modal, tetapi juga akses terhadap teknologi, pendidikan, informasi pasar, dan kebijakan yang mendukung masyarakat.
“Spirit Margono dan Sumitro adalah warisan intelektual yang sangat relevan untuk menjawab tantangan Indonesia saat ini. Keduanya mengajarkan bahwa pembangunan ekonomi harus dimulai dari penguatan masyarakat, memberikan akses yang adil terhadap kesempatan ekonomi, serta menghadirkan kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat,” ujar Jebul.
Untuk memperkuat sisi akademik, UMP juga mendirikan Pusat Studi Kebijakan Publik dan Kepemimpinan (PSKPK). Pusat studi tersebut diarahkan menjadi ruang untuk mengembangkan kajian dan riset mengenai pemikiran Margono dan Sumitro, termasuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan ekonomi kerakyatan dan keadilan sosial.
Pengembangan PSKPK dilakukan melalui kerja sama dengan Sumitro Institute. Selain penelitian, pusat studi ini diharapkan menjadi ruang diskusi mengenai persoalan pembangunan dan kebijakan publik yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
“Kami ingin UMP menjadi tempat pulang bagi pemikiran Margono dan Sumitro. Nilai-nilai perjuangan mereka harus terus dihidupkan melalui pendidikan, penelitian, kebijakan publik, pemberdayaan UMKM, hingga penguatan masyarakat desa. Kampus harus menjadi pusat transformasi yang melahirkan inovasi sekaligus menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat,” kata Jebul.
Pemikiran Margono sendiri tidak terlepas dari kondisi masyarakat Banyumas pada masa itu. Ia melihat masyarakat kecil, termasuk petani dan pedagang, menghadapi persoalan permodalan dan ketergantungan terhadap rentenir. Dari persoalan tersebut, muncul gagasan mengenai perlunya lembaga keuangan yang dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat.
Sementara Sumitro mengembangkan pemikiran mengenai pembangunan ekonomi yang bertumpu pada kekuatan masyarakat. Menurut Jebul, gagasan tersebut masih relevan untuk menjawab persoalan ekonomi saat ini, terutama dalam memperluas akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi.
UMP juga mengembangkan konsep kampus wisata yang dikaitkan dengan gerakan industrialisasi desa. Konsep tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus mempertemukan peran perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menggerakkan ekonomi daerah.
Melalui berbagai program tersebut, UMP berupaya menerjemahkan pemikiran Margono dan Sumitro ke dalam kegiatan yang lebih konkret. Bagi kampus, warisan pemikiran kedua tokoh tersebut tidak hanya penting untuk dikenang, tetapi juga dapat menjadi rujukan dalam membangun ekonomi yang lebih inklusif dan berpihak pada masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....