Cegah Anak Terlibat Tindak Pidana, Peran Keluarga dan Lingkungan Dinilai Penting

  • 11 Agt 2026 15:51 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Pencegahan anak agar tidak terlibat tindak pidana membutuhkan peran bersama dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Lingkungan yang kondusif serta pendidikan karakter dinilai menjadi salah satu kunci dalam membentuk perilaku anak.

Kejaksaan Negeri Cilacap Rischy, S.H., M.H., Kepala Subseksi I Pada Seksi Intelijen mengatakan, tanggung jawab terhadap tumbuh kembang dan perlindungan anak tidak hanya berada di lingkungan keluarga, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam memberikan pengawasan dan pendidikan sejak dari rumah.

Sementara sekolah diharapkan tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter dan budi pekerti.

“Semuanya kita bertanggung jawab terhadap anak. Semuanya masing-masing memiliki peran, dimana memiliki porsi, dimana anak ini kan merupakan nantinya cikal bakal kita untuk meneruskan generasi kita,” katanya.

Upaya pencegahan juga dilakukan Kejari Cilacap melalui sejumlah program edukasi hukum bagi anak, di antaranya Jaksa Masuk Sekolah dan Jaksa Menyapa. Melalui program tersebut, anak diberikan pemahaman mengenai perbuatan yang diperbolehkan maupun yang melanggar hukum, termasuk konsekuensi pidana dari suatu tindakan.

Menurutnya, edukasi tersebut bukan bertujuan untuk menakut-nakuti anak, melainkan memberikan pemahaman sejak dini agar mereka mampu mempertimbangkan dampak dari setiap perbuatannya.

Sementara itu, dalam menghadapi kasus perundungan atau perilaku menyimpang yang dilakukan anak secara berulang, pendekatan lingkungan dinilai tetap menjadi faktor penting. Nilai toleransi, saling menghargai, dan budi pekerti perlu terus ditanamkan di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Ia menambahkan, pemberian hukuman sebaiknya menjadi langkah terakhir. Anak perlu terlebih dahulu diarahkan dan dibentuk melalui lingkungan yang mendukung perubahan perilaku.

“Kita kasih pengertian bahwa ini salah, dampaknya apa sih kalau kamu melakukan perbuatan ini. Kita ngasih tahu poin pentingnya adalah Kamu kalau melakukan itu ke orang lain, orang lain akan merasakan seperti ini. Coba kalau hal itu terjadi ke kamu, bagaimana, Jadi kita lebih menenamkan rasa empati dan toleransi kepada anak itu,” ujarnya.

Ia berharap, pendekatan yang mengedepankan empati dan persuasif dapat membantu anak memahami kesalahan, mempertimbangkan dampak perbuatannya. Serta mencegah mereka kembali melakukan tindakan yang merugikan orang lain. (Dina Darozatun)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....