Musik Jadi Ruang Anak Muda Suarakan HAM dan Perubahan Sosial
- 31 Jul 2026 12:24 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Musik tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan sosial, kritik, hingga penyadaran terhadap hak asasi manusia (HAM). Melalui karya musik, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Manunggal Kawardaya, mengatakan musik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama. Bahkan, aktivitas bermusik dapat ditemukan dalam berbagai jejak sejarah dan kebudayaan Indonesia.
“Musik itu bagian dari semua orang. Kalau bicara sejarah, di candi-candi juga ada aktivitas bermusik, gamelan dan sebagainya. Ini bagian dari kultur kita,” ujarnya.
Menurutnya, musik memiliki kekuatan untuk menyampaikan berbagai pesan, baik yang bersifat horizontal antarsesama manusia maupun pesan yang ditujukan kepada kekuasaan. Dalam konteks HAM, musik dapat digunakan untuk menyampaikan kritik sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai hak-hak yang dimiliki.
Manunggal menjelaskan, perkembangan teknologi digital turut memperluas jangkauan pesan yang disampaikan melalui musik. Berbeda dengan era sebelum digital ketika masyarakat harus membeli kaset, CD, atau piringan hitam untuk mendengarkan musik, platform digital kini memungkinkan sebuah karya menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Digital itu menghilangkan batas-batas. Pesan akan tersebar ke mana pun sepanjang terhubung atau terkoneksi dengan internet,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi peluang bagi musisi untuk menyampaikan pesan mengenai demokratisasi, HAM, maupun kesadaran warga terhadap hak-haknya. Pesan tersebut dapat diterima oleh masyarakat tanpa terbatas ruang dan jarak.
Manunggal juga menekankan, seluruh aspek HAM memiliki nilai penting dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pesan mengenai HAM bahkan tidak selalu harus disampaikan melalui lagu yang secara langsung membahas persoalan sosial.
Ia mencontohkan sejumlah karya musik yang dikemas ringan, tetapi memiliki pesan mendalam mengenai lingkungan maupun persoalan sosial. Menurutnya, lagu dengan nuansa jenaka sekalipun dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran pendengar.
Selain itu, karya musisi seperti Iwan Fals dinilai menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi sarana penyadaran terhadap persoalan sosial, termasuk kondisi anak-anak yang harus bekerja dan hidup di jalanan.
“Gerakan musik itu juga menjadi penyadaran. Ketika pendengarnya maupun pelakunya kemudian menjadi pengambil kebijakan, kita bisa mengharapkan perubahan yang lebih baik,” jelasnya.
Karena itu, Manunggal menilai generasi muda tidak harus selalu mengangkat isu HAM dalam setiap karya musiknya. Namun, sebagai bagian dari masyarakat, anak muda juga memiliki tanggung jawab sosial untuk melihat dan merespons persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Ia mendorong para musisi muda untuk tidak hanya mengangkat tema personal seperti cinta dan patah hati, tetapi juga melihat persoalan publik yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Menurutnya, proses kreatif lahir dari dialektika manusia dengan lingkungan. Karena itu, berbagai persoalan seperti jalan rusak, polusi udara, kerusakan hutan, hingga banjir dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus ruang untuk menyampaikan kritik sosial.
“Banjir bukan sekadar pemberian Tuhan, tapi bisa juga karena hutan dan kebijakan negara yang tidak benar. Itu juga bagian dari proses kreatif,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak anak muda yang mampu melihat musik bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang untuk menyampaikan kegelisahan, membangun kesadaran, dan mendorong perubahan sosial.
Dengan begitu, panggung musik tidak berhenti sebagai tempat pertunjukan, tetapi dapat berkembang menjadi ruang publik tempat suara anak muda tentang hak, keadilan, dan masa depan masyarakat didengar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....