Penebusan Pupuk Subsidi Makin Mudah, Stok di Wonosobo Aman

  • 27 Jul 2026 15:48 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Wonosobo – Ketersediaan stok pupuk subsidi di Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dinilai sangat membantu petani yang saat ini banyak membudidayakan cabai gendot, salah satu komoditas yang tengah populer di kalangan pecinta kuliner.

Pemilik Kios Sumber Riski, Baniyah, mengatakan mayoritas petani di wilayahnya masih menanam cabai gendot yang belakangan banyak diulas oleh kreator konten kuliner di berbagai platform media sosial.

Menurut dia, sistem penebusan pupuk subsidi saat ini jauh lebih praktis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran sistem i-Pubers membuat proses penebusan menjadi lebih cepat dengan administrasi yang lebih sederhana.

"Penebusan pupuk sekarang dirasa lebih mudah, lebih cepat, dan harganya lebih murah," ujar Baniyah.

Ia menambahkan, penerapan i-Pubers juga mengurangi antrean di kios karena sebagian besar data petani telah terintegrasi dalam sistem.

"Memang mengurangi administrasi dan antrean karena semua data sudah ada dalam satu bendel laporan bulanan," katanya.

Baniyah memastikan stok pupuk subsidi di kios yang dikelolanya selalu tersedia sesuai kebutuhan petani. Ia juga mengimbau petani segera menebus pupuk sesuai alokasi yang diterima karena berpengaruh terhadap pelaporan dan kuota pada periode berikutnya.

Selain memastikan ketersediaan stok, pihaknya juga menerapkan harga pupuk sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Daftar harga tersebut dipasang di area kios agar dapat dilihat langsung oleh petani.

Harga pupuk subsidi mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1359/Kpts./HK.150/M/12/2025 dan Nomor 1396/Kpts./SR.310/M/12/2025. Berdasarkan ketentuan tersebut, harga pupuk subsidi meliputi NPK Kakao Rp132.000 per sak 50 kilogram, SP-36 Rp120.000 per sak, NPK Phonska Rp92.000 per sak, Urea Rp90.000 per sak, ZA Rp68.000 per sak, serta pupuk organik Petroganik Rp25.000 per sak 40 kilogram.

"Kami tempelkan papan harga pupuk di dekat etalase supaya petani bisa memastikan harganya sesuai ketentuan," ujar Baniyah.

Sementara itu, salah seorang petani asal Desa Patakbanteng, Ahmad Wahib, mengaku sistem i-Pubers membuat proses penebusan pupuk subsidi menjadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya.

"Sebenarnya hampir sama, tetapi penebusannya lebih mudah karena sudah ada akunnya. Stok juga selalu tersedia, hanya kuotanya yang berkurang," kata Wahib.

Ia menjelaskan, kuota pupuk subsidi yang diterimanya kini lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun lalu. Saat data masih atas nama ayahnya, alokasi pupuk yang diterima mencapai sekitar satu ton. Kini kuota tersebut tinggal sekitar tiga kuintal dan data petani harus diperbarui setiap tahun.

Menurut Wahib, pengurangan kuota menjadi tantangan tersendiri, terutama karena kebutuhan pupuk untuk komoditas seperti kentang tidak seluruhnya tercakup dalam skema subsidi.

Meski demikian, ia menilai kelancaran distribusi pupuk subsidi tetap memberikan dampak positif terhadap produktivitas pertanian, selain faktor cuaca dan jenis tanaman yang dibudidayakan.

"Selain menanam kentang, kami juga menanam cabai gendot yang mendapat alokasi pupuk subsidi. Jadi kalau harga pupuk lebih murah tentu sangat membantu. Kami juga harus melapor dan menebus sesuai kuota agar ke depan alokasinya tidak berkurang," tuturnya. (jkw)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....