Kidsphoria 2026 Dorong Budaya Perlindungan Anak Tanpa Kekerasan di Banyumas

  • 23 Jul 2026 15:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kabupaten Banyumas diwarnai dengan penyelenggaraan Kidsphoria. Kegiatan tersebut merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang mengusung semangat edukasi, kreativitas, dan perlindungan anak.

Program ini diinisiasi Forum Anak Banyumas dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Banyumas serta sejumlah mitra, salah satunya Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS). Kepala Unit Nino Martani Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), Lisa Indah Prasetyanti, S.Farm., Apt., M.M., menjelaskan bahwa Kidsphoria merupakan wadah bagi anak-anak untuk berekspresi dalam suasana yang menyenangkan sekaligus edukatif.

"Kalau kita melihat dari katanya, Kidsphoria terdiri dari dua kata, yaitu kids dan euphoria, yang berarti memberikan suasana gembira kepada anak agar mereka bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya melalui kegiatan yang edukatif, kreatif, dan inovatif," ujarnya saat diwawancarai RRI.

Menurut Lisa, perkembangan perlindungan anak di Kabupaten Banyumas menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Namun demikian, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama.

"Masih ada anak-anak yang belum memiliki akses pendidikan yang layak. Selain itu, kasus pelecehan seksual yang bahkan dilakukan oleh orang terdekat masih menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama," katanya.

Sebagai organisasi yang fokus pada isu perlindungan anak, YSBS terus mengembangkan berbagai program untuk mendukung tumbuh kembang anak, terutama dalam momentum Hari Anak Nasional. Salah satu program yang disiapkan adalah pengembangan remaja berbasis modul soft skill.

Melalui program tersebut, anak-anak didorong tidak hanya memiliki kemampuan akademik atau keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial.

"Kami ingin anak-anak memahami bagaimana mempersiapkan diri menghadapi masa depan, tidak hanya mengandalkan hard skill, tetapi juga soft skill yang akan mereka butuhkan," jelasnya.

Selain itu, YSBS juga memperkuat program pengasuhan keluarga dengan memberikan pendampingan kepada orang tua agar mampu menerapkan pola asuh tanpa kekerasan.

"Anak dibentuk dari keluarga. Karena itu kami mendampingi keluarga agar dapat mengasuh anak tanpa kekerasan," ucap Lisa.

Dalam menjangkau anak-anak yang masih enggan mengikuti program pendampingan, YSBS mengedepankan pendekatan persuasif melalui kolaborasi dengan Forum Anak Banyumas. Para anggota forum dilibatkan sebagai role model yang dapat menginspirasi anak-anak di desa-desa dampingan untuk berani mengembangkan potensi diri.

"Anak-anak membutuhkan contoh. Kami mengajak teman-teman Forum Anak Banyumas datang ke desa dampingan untuk menunjukkan bahwa mereka juga memiliki potensi dan bisa mengekspresikan apa yang mereka inginkan," ujarnya.

YSBS sendiri telah melakukan pendampingan terhadap anak selama hampir empat dekade. Berdiri sejak tahun 1981, lembaga tersebut telah menjangkau 13 desa dampingan. Saat ini, melalui kerja sama dengan Dinas Sosial P3A Kabupaten Banyumas, pendampingan masih dilakukan di empat desa dengan jumlah sekitar 1.072 anak yang berasal dari keluarga rentan dan kelompok masyarakat yang termarginalkan.

Menutup wawancara, Lisa berharap Kidsphoria tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi mampu melahirkan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.

"Saya tidak ingin ini hanya berhenti sebagai kegiatan tahunan. Saya ingin menjadi sebuah budaya, yaitu budaya mengasuh tanpa kekerasan, budaya mengajar tanpa kekerasan, dan budaya berteman tanpa saling menyakiti. Semoga semangat ini bisa terus berkelanjutan," ujarnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....