Embun Upas Kembali Muncul, BMKG Sebut Fenomena Alam Musiman

  • 10 Jul 2026 09:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Fenomena embun upas yang kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau 2026 menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. Menanggapi ramainya pemberitaan mengenai lapisan es yang menempel di tanaman, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kejadian alam yang normal dan lazim terjadi setiap musim kemarau.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang menjelaskan, secara meteorologi fenomena tersebut dikenal sebagai frost atau embun beku. Berbeda dengan salju yang terbentuk sebagai partikel presipitasi di atmosfer, embun upas merupakan butiran es yang terbentuk di permukaan tanaman, rumput, maupun benda lainnya akibat suhu permukaan yang turun hingga mencapai titik beku.

"Masyarakat lebih mengenal fenomena ini sebagai embun upas. Ini bukan salju, melainkan embun yang membeku di permukaan akibat suhu udara yang sangat rendah," demikian keterangan resmi BMKG.

BMKG menjelaskan, kemunculan embun upas berkaitan erat dengan karakteristik musim kemarau di Indonesia. Pada periode Juni hingga Agustus, tekanan udara di Benua Australia lebih tinggi dibandingkan Benua Asia sehingga memicu bertiupnya angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut menyebabkan langit cenderung cerah dengan tutupan awan yang sangat minim. Akibatnya, penyinaran matahari pada siang hari berlangsung maksimal sehingga suhu udara terasa lebih panas. Sebaliknya, pada malam hari panas yang tersimpan di permukaan bumi dengan mudah terlepas ke atmosfer karena tidak terhalang awan.

Proses pelepasan panas yang berlangsung terus-menerus sepanjang malam membuat suhu udara di kawasan pegunungan turun secara signifikan hingga menjelang matahari terbit, saat suhu minimum harian tercapai. Di wilayah dataran tinggi seperti Dieng, kelembapan udara yang relatif tinggi membuat kandungan uap air di udara cukup melimpah.

Ketika suhu permukaan turun hingga di bawah titik beku, embun yang sebelumnya terbentuk di daun, rumput, maupun tanaman berubah menjadi kristal es atau embun beku. Menurut BMKG, fenomena embun upas bukanlah kejadian luar biasa. Peristiwa ini hampir selalu muncul pada musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga September, bahkan sesekali sudah mulai terlihat pada Mei.

Intensitasnya biasanya meningkat mulai Juni dan mencapai puncaknya pada Agustus ketika suhu udara berada pada titik terendah. Selain menjadi fenomena meteorologi, embun upas juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke kawasan Dieng.

Hamparan tanaman yang tertutup kristal es kerap menjadi objek fotografi dan incaran para pendaki maupun wisatawan. Meski demikian, BMKG mengingatkan wisatawan agar tetap mengutamakan keselamatan selama berkunjung ke kawasan Dieng pada musim kemarau.

Suhu udara di wilayah tersebut pada waktu-waktu tertentu dapat turun hingga di bawah 0 derajat Celsius. Karena itu, wisatawan diimbau mengenakan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca, seperti jaket tebal atau mantel, sarung tangan, kaus kaki, serta sepatu yang mampu melindungi tubuh dari udara dingin ekstrem.

BMKG juga mengajak masyarakat untuk tidak salah mengartikan kemunculan embun upas sebagai fenomena salju. Embun beku merupakan proses alam yang biasa terjadi di kawasan pegunungan tropis dengan suhu rendah pada musim kemarau dan menjadi salah satu ciri khas Dataran Tinggi Dieng setiap tahunnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....