BMKG Peringatkan Banyumas Hadapi Puncak Kemarau Berpotensi Pada Kekeringan

  • 08 Jul 2026 15:01 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Kondisi musim kemarau di Kabupaten Banyumas diprakirakan semakin menguat memasuki Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan dampak kekeringan seiring semakin rendahnya curah hujan di sejumlah wilayah.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Sawardi mengatakan, musim kemarau di Banyumas mulai berlangsung secara bervariasi sejak Mei hingga Juni. Wilayah yang berdekatan dengan Cilacap lebih awal memasuki musim kemarau, sementara Banyumas bagian utara dan tengah mulai mengalami kemarau sekitar Juni.

"Untuk Banyumas itu antara Mei hingga Juni, biasanya wilayah Banyumas bagian utara dan tengah, termasuk wilayah perbukitan dan dataran tinggi. Tapi untuk wilayah yang dekat dengan Cilacap, Mei sudah mulai musim kemarau," kata Sawardi.

Berdasarkan prakiraan iklim BMKG, curah hujan di Banyumas pada Juli hingga September 2026 diprediksi berada di bawah normal. Kondisi El Nino dan Indian Ocean Dipole positif turut berpotensi mengurangi jumlah curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Banyumas.

Pada Juli, curah hujan di Banyumas secara umum diprakirakan hanya berkisar 21 hingga 50 milimeter per bulan, sedangkan sebagian kecil wilayah mencapai nol hingga 20 milimeter. Memasuki Agustus, curah hujan di sebagian besar wilayah Banyumas diprakirakan hanya berkisar nol hingga 20 milimeter per bulan sehingga potensi kekeringan semakin perlu diwaspadai.

"Artinya dalam bulan Juli dan Agustus ini hujannya kering, sangat kering. Maka kita mengimbau masyarakat hati-hati, kekeringan sudah terjadi dan semakin ke sana akan semakin kering," ujarnya.

Sawardi menyebut, pengaruh El Nino masih berpotensi bertahan hingga Oktober 2026 meski kekuatannya diprakirakan tidak sebesar pada Agustus. Kondisi pada Agustus diperkirakan menjadi puncak periode kering di wilayah Banyumas.

"Kalau kita lihat ENSO tadi itu sampai Oktober, Oktober kita masih kuat kondisi El Nino-nya, tetapi tidak sekuat bulan Agustus karena Agustus adalah puncaknya. Oktober nanti bisa kita asumsikan mirip dengan bulan Juli," ucapnya.

Kondisi musim kemarau pada 2026 bahkan diprakirakan lebih kering dibandingkan 2023 berdasarkan indikator El Nino. Meski demikian, kondisi tahun ini belum menyamai periode kemarau ekstrem saat pengaruh El Nino terkuat terjadi sebelumnya.

Prakiraan BMKG tersebut menjadi peringatan di tengah langkah Pemerintah Kabupaten Banyumas menuju penetapan status siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Kesiapsiagaan lintas sektor diperlukan untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan dan meningkatnya potensi kebakaran lahan selama puncak musim kemarau.

Masyarakat perlu menghemat penggunaan air dan mewaspadai berkurangnya sumber air bersih di lingkungan masing-masing. Aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan juga perlu dihindari sebagai langkah pencegahan karhutla selama kondisi cuaca semakin kering.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....