Musim Kemarau Bawa Harapan Panen Bawang Merah Berkualitas di Banjarnegara

  • 06 Jul 2026 14:47 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara: Fenomena embun es atau embun upas yang kerap muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara pada musim kemarau ini nyatanya tidak menjadi ancaman bagi para petani budidaya bawang merah. Petani justru menilai cuaca dingin dan kering menjadi kondisi ideal untuk menghasilkan bawang merah berkualitas, berbeda dengan musim hujan yang dinilai lebih berisiko terhadap pertumbuhan tanaman.

Hal tersebut disampaikan Petani Muda Bawang Merah Banjarnegara, Hartono. Tono menyatakan embun dingin tidak memberikan dampak negatif terhadap tanaman bawang merah, karena menurutnya, tantangan terbesar justru datang saat musim penghujan.

"Untuk bawang merah itu tidak berpengaruh. Yang paling berpengaruh justru ketika cuaca hujan," ujarnya.

Ia menjelaskan, pada musim hujan lahan pertanian di wilayahnya rentan tergenang karena tidak seluruh area memiliki saluran pembuangan air yang memadai. Kondisi tersebut dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan kualitas hasil panen.

Sebaliknya, musim kemarau menjadi waktu yang paling menguntungkan bagi petani bawang merah. Selain tanaman tumbuh lebih sehat, produktivitas dan kualitas hasil panen juga cenderung meningkat.

"Kalau di musim kemarau malah lebih bagus. Hasilnya lebih banyak dan tanamannya lebih sehat. Kualitasnya juga bagus, cocok sekali untuk produksi bawang merah," katanya.

Tono juga mengungkapkan, pada musim kemarau tahun lalu lahan yang dikelolanya mampu menghasilkan sekitar 500 kilogram bawang merah dalam satu kali panen. Sementara untuk musim tanam tahun ini, tanaman baru berusia sekitar satu bulan dan diperkirakan baru akan dipanen pada awal Agustus mendatang.

Ia menambahkan, suhu dingin yang terjadi pada musim kemarau, termasuk munculnya embun es di kawasan Dieng, justru membantu menjaga kualitas tanaman. Meski demikian, petani tetap memiliki strategi khusus ketika harus menanam bawang merah pada musim penghujan.

Menurut Tono, petani yang sudah berpengalaman biasanya tetap berani menanam dengan menerapkan teknik budidaya yang lebih intensif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memilih lahan dengan kontur lebih tinggi agar air hujan tidak menggenang.

Selain itu, perawatan tanaman pada usia awal menjadi lebih intensif, terutama dalam pemberian obat dan pengendalian penyakit. Menurutnya, apabila tanaman berhasil melewati masa pertumbuhan awal dengan kondisi sehat, peluang memperoleh hasil panen yang baik akan semakin besar.

"Kalau musim hujan, kami memilih lahan yang lebih tinggi, seperti pekarangan atau tegalan. Perawatan juga lebih ekstra, terutama pada 30 hari pertama karena tanaman masih rentan," jelasnya.

Selain memengaruhi produksi, kondisi musim juga berdampak pada harga jual bawang merah. Tono mengatakan harga bawang merah umumnya lebih tinggi pada musim penghujan karena pasokan dari petani berkurang akibat tingginya risiko budidaya.

Menghadapi musim panen tahun ini, Tono berharap kondisi cuaca tetap stabil hingga masa panen tiba. Ia juga berharap tidak terjadi fenomena kemarau basah yang dapat mengganggu kualitas hasil panen serta harga bawang merah tetap menguntungkan bagi petani.

"Harapan saya panennya melimpah, cuaca tetap stabil sampai panen, jangan ada kemarau basah, dan harga bawang merah tetap tinggi sehingga petani bisa mendapatkan hasil yang baik," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....