Placemaking Jadi Kunci Ruang Kota Ramah Anak Muda

  • 26 Jun 2026 14:53 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Konsep placemaking dinilai menjadi salah satu elemen penting dalam pembangunan kota yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Hal tersbeut disampaikan Dosen Arsitektur Fakultas Teknik Unsoed Purwokerto, Yemima Sahmura Vividia.

Ia menilai ruang kota seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat fisik, tetapi juga ruang yang memiliki makna sosial, ekonomi, dan politik. Menurut Yemimah, kota dapat dianalogikan seperti “kertas yang terus ditulis ulang” oleh berbagai dinamika, mulai dari sejarah, politik, hingga pergerakan warganya, karena itu, kota selalu beradaptasi dan memiliki makna yang terus berkembang.

“Placemaking itu sebenarnya ada di dalam kota, hanya sering tidak disadari. Ketika sebuah ruang diberi makna oleh konteks sosial, ekonomi, dan politik, di situlah placemaking terjadi,” katanya.

Yemima juga menjelaskan, perubahan fungsi bangunan atau ruang tidak selalu menjadi indikator kemajuan. Dalam banyak kasus, bangunan lama yang diadaptasi menjadi fungsi baru, seperti kafe yang kini marak di Purwokerto, bisa menjadi ruang yang hidup kembali.

Namun, menurutnya, ruang tersebut harus tetap inklusif dan tidak hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu. Yemimah menyoroti tren berkembangnya ruang komersial yang sering kali membatasi akses masyarakat, terutama anak muda atau warga kota yang tidak memiliki daya beli.

“Ketika ruang hanya bisa dinikmati kalau kita membeli sesuatu, maka itu menjadi tantangan. Ruang kota seharusnya bisa diakses siapa saja tanpa batasan ekonomi,” ujarnya.

Dalam konteks Purwokerto, ia melihat sejumlah ruang publik seperti Kebon Dalem, kawasan GOR Satria, hingga Menara Teratai menjadi contoh fenomena ruang kota yang terus berkembang. Namun, ia menilai generasi muda perlu lebih kritis dalam melihat fungsi ruang-ruang tersebut.

Menurutnya, ruang publik harus mengedepankan prinsip keadilan, di mana semua lapisan masyarakat bisa merasa memiliki dan memanfaatkannya. Yemima juga mendorong anak muda untuk lebih aktif menghidupkan ruang-ruang publik non-komersial seperti taman kota dan alun-alun, bukan hanya menjadikan mal atau kafe sebagai pusat aktivitas.

“Kalau mau kumpul komunitas, tidak harus selalu di mal. Bisa di taman kota atau ruang publik lain yang lebih terbuka dan bisa diakses semua orang,” katanya.

Ia berharap generasi muda Purwokerto lebih berani mengekspresikan diri di ruang kota, sekaligus ikut membentuk wajah kota yang lebih inklusif di masa depan.

“Teruslah berekspresi, berkarya, dan gunakan ruang publik untuk menarasikan suara kalian. Jangan hanya berkutat di satu titik, karena masih banyak ruang kota lain yang bisa dihidupkan oleh anak muda,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....