Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Agustus, Potensi Kekeringan Mulai Diwaspadai

  • 24 Jun 2026 08:55 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Banyumas Raya, termasuk Kabupaten Banyumas dan Cilacap, akan terjadi pada Agustus 2025 mendatang. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta mulai mengantisipasi potensi kekeringan yang berisiko mengganggu ketersediaan air bersih dan sektor pertanian.

Prakirawan Cuaca BMKG Cilacap, Adnan Dendy Mardika, S.Kom., M.Si, menjelaskan bahwa meskipun puncak musim kemarau di Banyumas dan Cilacap diperkirakan berlangsung pada bulan yang sama, awal musim kemarau di kedua wilayah tersebut berbeda.

Menurutnya, sebagian besar wilayah Cilacap telah memasuki musim kemarau sejak pertengahan hingga akhir Mei. Sementara itu, sejumlah wilayah Banyumas, terutama bagian utara dan tengah, baru memasuki musim kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.

"Secara umum puncak musim kemarau di Cilacap maupun Banyumas diperkirakan terjadi pada Agustus. Namun, wilayah Cilacap memang lebih dahulu memasuki musim kemarau dibanding Banyumas," ujarnya.

BMKG juga mencatat wilayah Banyumas bagian barat daya, selatan, dan tenggara serta sebagian besar wilayah Cilacap memiliki durasi musim kemarau yang lebih panjang, yakni mencapai 14 hingga 18 dasarian atau sekitar lima hingga enam bulan. Selain itu, kondisi musim kemarau tahun ini diperkirakan berada pada kategori bawah normal.

Artinya, jumlah curah hujan yang turun selama musim kemarau diperkirakan kurang dari 85 persen rata-rata curah hujan berdasarkan data klimatologis periode 1991-2020. Adnan menjelaskan bahwa tingkat potensi kekeringan di setiap wilayah berbeda-beda dan dipengaruhi oleh karakteristik musim kemarau serta jumlah hari tanpa hujan.

Berdasarkan pemantauan BMKG, sejumlah wilayah di Cilacap seperti Kawunganten dan Sidareja telah mengalami hari tanpa hujan selama sekitar 20 hari. "Wilayah-wilayah tersebut perlu mendapat perhatian karena potensi kekeringannya lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya," katanya.

Sementara itu, sebagian besar wilayah Banyumas masih mengalami hujan dalam rentang satu hingga lima hari terakhir, meskipun kawasan bagian selatan mulai menunjukkan kondisi yang lebih kering. Maka dari itu, BMKG mengingatkan bahwa dampak musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air bersih, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan kesehatan masyarakat.

Kondisi udara yang lebih kering dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta dehidrasi. Karena itu, BMKG mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk menjadikan informasi prakiraan cuaca sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyediaan armada distribusi air bersih, pemantauan sistem irigasi dan waduk, hingga penyusunan rencana tanggap darurat menjelang puncak musim kemarau. Di sektor pertanian, petani juga diimbau menyesuaikan pola tanam, memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering, serta menerapkan teknik budidaya yang mampu menghemat penggunaan air.

"Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan karena risiko dehidrasi dan ISPA dapat meningkat selama musim kemarau. Sementara untuk sektor pertanian, perlu perhatian khusus mengingat curah hujan tahun ini diperkirakan lebih rendah dibanding kondisi normal," ujar Adnan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....