Ketua Komisi IV DPR RI Tinjau Program Ketahanan Pangan di Nusakambangan

  • 20 Jun 2026 19:42 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Cilacap : Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Heriyadi atau Titiek Soeharto bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Sabtu (20/6/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau langsung perkembangan program ketahanan pangan yang dikembangkan di kawasan lembaga pemasyarakatan tersebut.

Dalam peninjauan itu, rombongan melihat pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi kawasan pertanian, peternakan, perikanan, serta berbagai unit pelatihan kerja yang melibatkan warga binaan.

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto mengatakan kunjungannya bertujuan melihat secara langsung upaya Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

"Kami datang ke sini dalam rangka melihat usaha untuk meningkatkan ketahanan pangan di sini. Pak Menteri mengundang kami melihat sendiri bagaimana lahan tidur yang ada di sini disulap oleh Pak Agus beserta jajarannya menjadi lahan-lahan produktif," katanya.

Selama berada di Nusakambangan, rombongan meninjau sejumlah lokasi budidaya dan produksi, mulai dari sawah, kebun cabai dan tomat, peternakan ayam petelur dan pembuatan batu bata dari FABA di Lapas Terbuka, pengolahan sampah, konveksi di Lapas Nirbaya, budidaya anggur dan peternakan kambing di Lapas Kembang Kuning, budidaya udang vaname Bantar Panjang, hingga budidaya sidat Lapas Batu.

Menurut Titiek, transformasi yang terjadi di Nusakambangan patut diapresiasi karena mampu mengubah kawasan yang selama ini identik dengan penjara menjadi sentra produksi yang memberikan manfaat.

"Pak Menteri ini kreatif sekali. Dari Nusakambangan yang kita lihat dan dengar selalu serem, bayangannya Alcatraz. Ternyata setelah ke sini so friendly dan bisa menghasilkan begitu banyak produk-produk yang bermanfaat untuk kita semuanya," katanya.

Ia berharap konsep pemanfaatan lahan produktif seperti di Nusakambangan dapat diterapkan di berbagai daerah lain untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.

Apalagi menurutnya, program tersebut bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.

"Yang lebih penting lagi ini melibatkan warga binaan. Sebelum mereka keluar melalui asimilasi, mereka sudah dibekali ilmu dan keterampilan khusus. Mereka juga mendapatkan insentif atau uang premi setiap hari yang ditabung sebagai bekal ketika kembali itu yang luar biasa," katanya.

Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menjelaskan seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan didorong memanfaatkan lahan yang belum digunakan agar memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan pangan.

"Kami sudah laporkan kepada beliau bahwa seluruh Lapas dan Rutan memanfaatkan lahan idle yang ada untuk dioptimalkan mendukung program ketahanan pangan, terutama memenuhi kebutuhan di dalam," kata Agus.

Menurutnya, program tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan warga binaan. Mereka dilibatkan dalam berbagai kegiatan produksi sehingga memiliki keterampilan dan pengalaman kerja sebelum kembali ke masyarakat.

"Yang lebih penting lagi ini melibatkan warga binaan. Sebelum mereka keluar melalui asimilasi, mereka sudah dibekali ilmu dan keterampilan khusus. Mereka juga mendapatkan insentif atau uang premi setiap hari yang ditabung sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,"ujarnya.

Melalui program tersebut, Nusakambangan kini berkembang tidak hanya sebagai kawasan pemasyarakatan, tetapi juga menjadi pusat ketahanan pangan, pelatihan kerja, dan pemberdayaan warga binaan yang mendukung program swasembada pangan pemerintah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....