BMKG Cilacap Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering, Suhu Terus Meningkat

  • 11 Jun 2026 15:02 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang terjadi bersamaan dengan tren kenaikan suhu udara di wilayah Banyumas dan sekitarnya akibat perubahan iklim.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Tunggul Wulung Cilacap, Deas Achmad Rivai, mengatakan berdasarkan hasil pengamatan, terdapat tren kenaikan suhu udara di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Kenaikan tersebut terjadi baik pada suhu rata-rata, suhu maksimum, maupun suhu minimum.

“Tren kenaikan suhu rata-rata meningkat 0,002 derajat celcius per tahun. Tren kenaikan suhu udara maksimum meningkat 0,028 derajat celcius per tahun dan terakhir tren kenaikan suhu udara minimum meningkat 0,053 derajat per tahun,” katanya saat diwawancarai RRI.

Selain kenaikan suhu, perubahan iklim juga dapat dikenali dari bergesernya pola musim. Waktu datangnya musim hujan yang biasanya terjadi pada bulan-bulan tertentu kini mengalami perubahan, baik lebih awal maupun lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Selain itu, fenomena cuaca ekstrem juga semakin sering terjadi di sejumlah wilayah.

Ia menjelaskan, puncak musim kemarau di Jawa Tengah diperkirakan terjadi pada akhir Juli hingga Agustus 2026. Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah dampak yang berpotensi muncul, seperti kekeringan, keterbatasan air bersih, hingga gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan kering yang berkepanjangan.

Perubahan iklim juga berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Di sektor pertanian, kondisi cuaca dan iklim memengaruhi pengambilan keputusan terkait pola tanam, waktu tanam, hingga masa panen.

Selain itu, tanaman juga menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit akibat perubahan kondisi lingkungan.

“Untuk para petani akan mempengaruhi pola tanam, kemudian untuk para pekerja konstruksi akan mempengaruhi pekerjaan penyelesaian proyek, nelayan juga akan terdampak dari kondisi laut dan tangkapan ikan,” katanya.

Deas menambahkan, BMKG terus melakukan pemantauan dan menyampaikan informasi cuaca maupun iklim terkini kepada masyarakat serta pemerintah daerah di wilayah Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan di berbagai sektor yang terdampak perubahan iklim.

Ia mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan gizi, serta rutin mengikuti informasi cuaca dan iklim yang disampaikan BMKG. Selain itu, upaya mitigasi perubahan iklim juga perlu dilakukan melalui perilaku yang lebih ramah lingkungan demi menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.

“Terkait dengan perubahan iklim itu memang sesuatu yang mau tidak mau, itu memang terjadi. Makanya ada mitigasi terhadap perubahan iklim yang harus dilakukan. Kita harus membiasakan sesuatu yang lebih berkesinambungan dengan lingkungan, karena lingkungan kita juga warisan untuk generasi penerus,” ujarnya. (Aisha)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....