Selangor Malaysia Tertarik Adopsi Sistem Pengelolaan Sampah Banyumas

  • 17 Apr 2026 16:53 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kabupaten Banyumas kembali menarik perhatian dunia internasional dalam hal pengelolaan sampah. Kali ini, rombongan dari Selangor, Malaysia, datang langsung untuk mempelajari sistem yang diterapkan di daerah tersebut, dalam kunjungan yang berlangsung di Ruang Joko Kaiman, Rabu (15/4/2026).

Rombongan yang dipimpin CEO KDEB Waste Management Selangor, Dato Ramli bersama PT Gibrig Indonesia Bersih itu diterima Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Junaedi serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Widodo Sugiri. Kunjungan ini sekaligus membuka peluang kerja sama, mulai dari teknologi hingga investasi di sektor persampahan.

Dalam pertemuan tersebut, Dato Ramli menyampaikan ketertarikannya terhadap sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang diterapkan di Banyumas. Menurutnya, model ini menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia dan berpotensi diterapkan di Malaysia.

Ia menjelaskan, pihaknya telah melihat langsung praktik pengelolaan sampah yang dilakukan secara desentralisasi hingga tingkat desa atau kampung. Penggunaan mesin pengolah sampah di tingkat lokal dinilai efektif dan menjadi poin utama yang ingin dipelajari.

“Di Selangor, kami memiliki hampir 275 kampung tradisi. Kami melihat upaya di Banyumas ini sebagai model yang sangat baik untuk dipelajari guna meningkatkan pengelolaan sampah di kampung-kampung kami,” ujarnya.

Dato Ramli menambahkan, kunjungan ini menjadi langkah awal untuk menjajaki kerja sama teknologi antara Selangor dan Banyumas. Rencana kolaborasi mencakup transfer teknologi mesin pengolahan sampah, pembelajaran sistem manajemen berbasis kampung, hingga penyusunan nota kesepahaman (MoU).

Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di daerahnya tidak dicapai secara instan. Ia mengingatkan, Banyumas pernah menghadapi krisis sampah pada 2018.

“Saat itu sampah ada di mana-mana. Banyak tempat pembuangan akhir ditutup karena penolakan masyarakat,” ucapnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran besar, dengan biaya pengelolaan sampah saat itu mencapai Rp30 hingga Rp40 miliar per tahun.

Terkait peluang kerja sama, Sadewo menyebut tidak hanya terbatas pada hubungan antarpemerintah melalui konsep sister city, tetapi juga membuka ruang kerja sama bisnis ke bisnis (B2B).

Ia menambahkan, pendekatan pengelolaan sampah di Banyumas tidak hanya berorientasi pada pembuangan limbah, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi. Jika banyak daerah mengembangkan konsep zero waste to energy yang membutuhkan biaya besar, Banyumas justru mendorong konsep zero waste to money.

“Saya kepenginnya zero waste to money, jadi sampahnya hilang dan menghasilkan uang yang bisa digunakan kembali untuk biaya pengelolaan sampah tersebut,” ujarnya.

Dalam rencana kerja sama tersebut, terdapat peluang investasi B2B, khususnya dalam pengadaan mesin pengolah sampah di Banyumas. Fokusnya meliputi produksi palet limbah sebagai material lantai, pengolahan biji plastik kualitas dua menjadi produk seperti ember, hingga ekspor hasil olahan limbah ke Malaysia.

Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari komunikasi yang telah terjalin sebelumnya. Delegasi Malaysia tercatat beberapa kali berkunjung ke Banyumas, sementara Pemkab Banyumas juga pernah diundang ke Kuala Lumpur untuk memaparkan sistem pengelolaan sampah yang dikembangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....