FIB Unsoed Gaungkan Kebangkitan Geguritan Banyumasan
- 05 Jun 2026 08:33 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas -Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi budaya digital, keberlangsungan sastra daerah menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar talkshow bertajuk “ Membumikan Geguritan di Era Kini, Mungkinkah? “ di Aula Bambang Lelono FIB Unsoed, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini menjadi ruang pertemuan antara akademisi, budayawan, mahasiswa, dan masyarakat untuk mendiskusikan masa depan geguritan sebagai salah satu warisan sastra Jawa yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Talkshow diselenggarakan oleh Laboratorium Pertunjukan dan Seni FIB Unsoed bekerja sama dengan Pusat Riset Budaya, Kearifan Lokal, dan Agama. Hadir sebagai narasumber dua tokoh budaya, yakni Wanto Tirta yang dikenal sebagai Presiden Geguritan serta Jarot C. Setyoko dari Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas. Acara dipandu oleh Dr. Lynda Susana.
Dalam sambutannya, Dekan FIB Unsoed, Prof. Dr. Ely Triasih Rahayu, S.S., M.Hum., menegaskan komitmen fakultas untuk terus menjadi ruang dialog dan pengembangan budaya lokal, khususnya budaya Banyumasan.
“Fakultas Ilmu Budaya siap menjadi pusat diskusi bersama mengenai pelestarian dan pengembangan seni budaya, khususnya budaya Banyumasan. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya agar tetap relevan bagi generasi masa kini,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., IPU., ASEAN Eng., menyoroti pentingnya sinergi antara riset dan kebudayaan dalam upaya pelestarian warisan lokal.
“Riset dan budaya tidak dapat dipisahkan. Pengembangan kebudayaan memerlukan dukungan kajian ilmiah, sementara riset akan semakin bermakna ketika mampu memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian dan pengembangan budaya masyarakat,” tuturnya.
Pada sesi pemaparan materi, Jarot C. Setyoko mengajak peserta menelusuri perjalanan panjang puisi Jawa, mulai dari tradisi macapat hingga lahirnya geguritan modern. Melalui pembacaan sejumlah karya, ia menunjukkan bagaimana sastra Jawa terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
“Geguritan merupakan bagian dari perjalanan panjang sastra Jawa. Ia terus berkembang mengikuti zaman, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai budaya yang melahirkannya,” jelas Jarot.
Sementara itu, Wanto Tirta menyoroti tantangan sekaligus peluang dalam mengembangkan geguritan berbahasa Banyumasan atau yang dikenal dengan bahasa ngapak. Menurutnya, bahasa daerah harus terus dihadirkan dalam ruang-ruang kreatif agar tetap hidup dan dekat dengan generasi muda.
“Bahasa Banyumasan memiliki kekayaan ekspresi yang luar biasa. Tantangan kita hari ini bukan sekadar melestarikan, tetapi membuatnya tetap digunakan, dicintai, dan menjadi medium berkarya bagi generasi muda,” ungkapnya.
Ketua Laboratorium Pertunjukan dan Seni FIB Unsoed, Exwan Andriyan Verrysaputro, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kampus untuk mendekatkan tradisi sastra lokal kepada generasi muda.
“Melalui forum ini, kami ingin menghadirkan ruang perjumpaan antara akademisi, budayawan, mahasiswa, dan masyarakat untuk bersama-sama memikirkan masa depan geguritan. Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan inovasi dan kreativitas,” katanya.
Selain talkshow, acara juga menjadi momentum pengumuman pemenang Lomba Maca Geguritan yang sebelumnya digelar dalam rangkaian kegiatan Pawiyatan dan Pagelaran Tahun 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada generasi muda yang aktif menjaga dan mengembangkan sastra daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....