PGSD UMP Bekali Mahasiswa Pemahaman Praktis Pendidikan Inklusi
- 23 Mei 2026 18:25 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Pendidikan inklusi di sekolah dasar menjadi salah satu isu penting yang perlu dipahami calon guru sejak dini. Untuk memperkaya wawasan mahasiswa mengenai praktik pendidikan inklusif di lapangan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menggelar kegiatan Praktisi Mengajar dengan menghadirkan dua kepala sekolah yang aktif mengembangkan layanan pendidikan inklusi.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Syamsuhadi Irsyad, Lantai 10 Gedung AR Fachruddin UMP, Kamis (21/5/2026), tersebut diikuti sekitar 210 mahasiswa semester dua PGSD FKIP UMP. Hadir sebagai narasumber Aminah Agustina, S.Pd. dan Rosiana Rahayu, S.Pd., sementara acara dibuka oleh Ketua Program Studi PGSD, Aji Heru Muslim, M.Pd.
Kegiatan Praktisi Mengajar ini merupakan bagian dari perkuliahan Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum SD yang diampu Dr. Sriyanto dengan mengangkat tema “Pendidikan Inklusi pada Kurikulum SD”.
Dalam pengantarnya, Dr. Sriyanto menjelaskan bahwa pendidikan inklusi merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan belajar kepada seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi mereka. Ia menambahkan, pendidikan inklusi dibangun di atas nilai-nilai humanistik, konstruktivistik, dan demokratis yang menjadi dasar gerakan Education for All.
“Konsep ini berbeda dengan pendekatan segregasi dan integrasi karena menempatkan seluruh siswa sebagai bagian yang setara dalam lingkungan belajar yang sama,” tuturnya dalam keterangan yang diterima RRI, Sabtu (23/5/2026).
Pada sesi berikutnya, Rosiana Rahayu menyampaikan materi berjudul “Konstruksi Identitas Belajar Siswa Disabilitas Intelektual dalam Ruang Inklusi”. Ia menjelaskan bahwa pendidikan inklusif membuka akses bagi seluruh peserta didik, termasuk penyandang disabilitas intelektual, untuk belajar bersama di sekolah reguler dengan dukungan yang disesuaikan kebutuhan masing-masing.
“Penerapan pendidikan inklusi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan guru pendamping khusus, minimnya pelatihan bagi guru, hingga belum optimalnya pelaksanaan program pembelajaran individual bagi siswa berkebutuhan khusus,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan emosional, instrumental, dan penghargaan dalam membentuk identitas belajar yang positif bagi siswa disabilitas intelektual. Anak-anak berkebutuhan khusus, kata dia, memerlukan pembelajaran yang konkret, pengulangan yang konsisten, serta motivasi yang berkelanjutan agar dapat berkembang secara akademik maupun sosial.
“Identitas belajar positif tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui kesabaran, pendampingan, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi,” ujarnya.
Sementara itu, Aminah Agustina membagikan pengalaman penerapan pendidikan inklusi di sekolah yang dipimpinnya. Ia menjelaskan bahwa sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang membuka kesempatan bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), untuk belajar bersama dalam satu kelas.
Dalam paparannya, Aminah menjelaskan beragam karakteristik ABK yang ada di sekolah, seperti ADHD, slow learner, down syndrome, tunadaksa, hingga disabilitas intelektual ringan. Ia juga memaparkan berbagai bentuk dukungan yang diberikan Dinas Pendidikan maupun lembaga terkait, mulai dari penyediaan sarana belajar, renovasi ruang khusus ABK, hingga pendampingan bagi guru.
Meski demikian, Aminah mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan pendidikan inklusi, seperti kebutuhan kurikulum khusus bagi ABK, sistem rapor yang lebih sesuai, serta layanan terapi yang memadai bagi siswa berkebutuhan khusus.
Untuk menjawab tantangan tersebut, sekolah terus melakukan berbagai upaya, di antaranya mengikuti komunitas belajar, menyusun format rapor sederhana khusus ABK, serta membangun kerja sama dengan rumah sakit dan Dinas Pendidikan. Menurutnya, guru memiliki peran strategis sebagai fasilitator, motivator, sekaligus pihak yang menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh siswa di kelas inklusi.
Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari mahasiswa. Peserta aktif berdiskusi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait praktik pendidikan inklusi di sekolah dasar.
Menutup kegiatan, Dr. Sriyanto menyampaikan lima langkah yang dinilai penting untuk memperkuat pendidikan inklusi di Indonesia, yakni peningkatan kompetensi guru, pengembangan sekolah inklusi, inovasi pembelajaran, kolaborasi lintas sektor, serta penguatan kebijakan pemerintah.
Ia berharap sekolah dasar dapat menjadi ruang belajar yang aman, adil, dan ramah bagi seluruh anak, sekaligus mendukung terwujudnya pendidikan berkelanjutan yang berbasis kesetaraan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....