Peran SKB Purwokerto Menangani Anak Putus Sekolah

  • 29 Apr 2026 11:08 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas : Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Purwokerto terus memperkuat perannya dalam menekan angka anak tidak sekolah (ATS) melalui program pendidikan kesetaraan yang fleksibel. Dengan pendekatan humanis, lembaga ini hadir menjadi jembatan bagi anak-anak yang terkendala faktor ekonomi dan sosial agar tetap mendapatkan legalitas pendidikan serta ijazah yang setara dengan jalur formal.

Pamong Belajar Ahli Muda SKB Purwokerto, Farida Dwi Trianingsih, S.Pd., menjelaskan bahwa fenomena anak putus sekolah di lapangan seringkali didominasi oleh faktor ekonomi dan geografis. Selain jarak tempat tinggal yang jauh dari sekolah, faktor sosial seperti pernikahan dini juga menjadi penyebab utama anak terpaksa meninggalkan bangku pendidikan.

"Faktornya sangat beragam, namun yang paling dominan adalah ekonomi dan geografis. Selain itu, ada faktor sosial seperti pernikahan dini yang membuat mereka terpaksa berhenti sekolah," ujarnya saat diwawancarai RRI Purwokerto pada Rabu, (29/4/2026).

Lebih lanjut, Farida memaparkan bahwa anak-anak yang tidak bersekolah sebenarnya tetap melakukan proses belajar melalui pengalaman hidup sehari-hari. Hanya saja, pembelajaran tersebut tidak terstruktur sehingga mereka tidak memiliki legalitas atau ijazah untuk masa depan.

Oleh karena itu, kehadiran SKB berfungsi untuk merapikan pelajaran hidup yang telah mereka dapatkan tersebut ke dalam kurikulum yang terukur. Melalui program kesetaraan seperti Paket A, B, dan C, peserta didik bisa mendapatkan legalitas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Di SKB, proses belajar dibuat lebih terstruktur dan ada evaluasinya. Yang terpenting, mereka nantinya mendapatkan ijazah sehingga memiliki legalitas untuk melamar pekerjaan atau lanjut sekolah," katanya.

Tak hanya itu, fleksibilitas menjadi kunci utama SKB dalam menarik minat warga belajar. Pendekatan yang digunakan lebih menekankan sisi humanisme dan menyesuaikan kebutuhan peserta didik, baik usia anak-anak maupun dewasa. Bahkan, metode pembelajaran masa kini seperti STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) mulai diterapkan agar pembelajaran lebih bermakna.

Meski menghadapi tantangan berupa motivasi belajar yang rendah, Farida mengaku pihaknya terus berupaya menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Para pengajar di SKB diposisikan bukan hanya sebagai guru, melainkan juga sebagai teman, pendamping, dan mentor agar warga belajar tidak merasa bosan.

Terakhir, Farida menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat, bukan hanya guru atau orang tua semata. Ia mengimbau masyarakat untuk merangkul anak-anak yang putus sekolah alih-alih mengucilkan mereka.

"Pendidikan itu tanggung jawab kita semua. Saya mengajak masyarakat, jika menemui anak yang tidak bersekolah, mari kita rangkul dan ajak mereka untuk kembali belajar dengan mendaftarkan diri di SKB Purwokerto," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....