Hari Bumi: Momentum Kontribusi Nyata, Bukan Sekadar Seremonial
- 22 Apr 2026 11:11 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 April menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali sejauh mana keramahan manusia terhadap lingkungan. Di Kabupaten Banyumas, isu kesadaran masyarakat dan pengelolaan sampah masih menjadi sorotan utama bagi para aktivis lingkungan dalam menjaga kelestarian bumi.
Aktivis Lingkungan Banyumas, Fatah Mokhamad Sutopo atau yang akrab disapa Ki Topo, mengungkapkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat saat ini masih berada di posisi yang dilematis. Di satu sisi masyarakat mulai mengenal isu lingkungan, namun di sisi lain perilaku yang merusak bumi masih terus terjadi.
“Kalau tentang hal itu, kami bisa ngomong masih harus dibuktikan. Kalau mungkin Hari Bumi itu bisa sering dilakukan atau dinikmati oleh kalangan relawan lingkungan, namun masih ada beberapa sisi warga masyarakat yang belum tersentuh hal itu. Ini pentingnya kita untuk memberikan edukasi kepada warga masyarakat,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu, (22/4/2026).
Ki Topo menilai, tren peringatan Hari Bumi belakangan ini cenderung terjebak dalam aktivitas seremonial di media sosial. Banyak pihak yang hanya mengejar pengakuan digital seperti like dan followers, namun minim kontribusi nyata terhadap esensi perawatan lingkungan itu sendiri.
Menurutnya, permasalahan lingkungan yang paling mendesak di Banyumas saat ini adalah persoalan sampah. Volume sampah yang terus meningkat setiap hari menuntut penanganan yang sangat hati-hati dan sistematis agar tidak menjadi bencana di masa depan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah sederhana di lingkungan keluarga dan gaya hidup generasi muda. Ia mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan diri dengan hal-hal kecil yang berdampak jangka panjang.
“Bagi ibu rumah tangga, setelah memasak harus pandai memilah dan membuang sampah. Untuk Gen Z, mulailah membawa tumbler sebagai pengganti botol plastik, serta jangan malu membawa kantong kain katanya.
Melalui momentum Hari Bumi ini, Ki Topo berharap adanya sinergi yang lebih kuat antara kebijakan pemerintah dan aksi nyata masyarakat. Pemerintah diharapkan lebih peka terhadap regulasi lingkungan, sementara masyarakat diminta untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan pelaku aktif dalam menjaga ekosistem.
“Peran komunitas lingkungan sangat penting untuk mendorong perubahan perilaku ini melalui program-program yang berdampak langsung. Intinya, kita butuh kontribusi nyata, bukan lagi sekadar peringatan di atas kertas atau layar ponsel,” ujarnya. (kiki)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....