Harga Solar Non-Subsidi Naik, Banyak Nelayan Tegal Tunda Keberangkatan Melaut

  • 21 Apr 2026 14:50 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Kota tegal - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi memberikan tekanan serius terhadap aktivitas nelayan di Kota Tegal. Kondisi ini mendorong sebagian nelayan menunda keberangkatan dan memilih bertahan di pelabuhan, sambil menunggu kepastian harga agar terhindar dari risiko kerugian yang lebih besar. kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya yang semakin tinggi Selasa (21/4/2026).

Perwakilan HNSI Jawa Tengah, Riswanto menjelaskan bahwa kebutuhan BBM dalam aktivitas melaut mencapai sekitar 75 persen dari total biaya operasional. Diketahui, BBM alternatif seperti Dexlite yang sebelumnya menjadi pilihan nelayan juga ikut terdampak kenaikan harga dari sebelumnya sekitar Rp14.800 per liter, kini naik menjadi sekitar Rp23.600 hingga Rp23.900 per liter, sehingga sangat mempengaruhi keberlangsungan usaha nelayan.

Riswanto mengatakan dalam satu kali melaut, kebutuhan bahan bakar nelayan dapat mencapai 40 hingga 50 ton, sehingga lonjakan harga sangat membebani biaya operasional. Selain itu, beban nelayan juga bertambah akibat naiknya harga bahan pendukung seperti plastik yang meningkat hingga 30 sampai 40 persen.

“Kebiasaan daripada teman-teman itu membawa 50 ton ataupun 40 ton, itu untuk BBM-nya sendiri sudah hampir Rp1 miliar. Belum lagi harga plastik yang naiknya sudah hampir 30-40 persen. Itu teman-teman itu per kapal biasanya membawa 300 kg plastik."

Dampaknya mulai terlihat di lapangan, di mana sejumlah nelayan memilih menunda keberangkatan dan mengikat kapal di pelabuhan karena khawatir mengalami kerugian akibat tingginya biaya operasional. Sekitar 50 persen kapal nelayan masih bertahan di pelabuhan menunggu kepastian harga BBM, sementara sisanya tetap melaut dengan bekal BBM yang telah dibeli sebelum kenaikan harga.

“karena kita tahu untuk mencari ikan itu sifatnya berburu, ini tentu berisiko ketika kemudian di tengah laut dengan biaya yang besar, operasional yang besar, tapi hasilnya tidak jelas. Jadi lebih memilih ikat kapalnya,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, nelayan berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui kebijakan khususnya terkait harga BBM solar non-subsidi yang dinilai sudah sulit dijangkau guna menjaga keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....