Kisah Ki Ageng Selo dan Makna Tradisi Supranatural
- 20 Apr 2026 14:23 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banjarnegara: Masyarakat sekitar Grobogan percaya bahwa Ki Ageng Selo memiliki kesaktian berupa mampu menangkap petir. Bahkan sebagian mereka ketika terjadi hujan petir merapal kata "bledek, aku gandreke Ki Ageng Selo" (petir, saya pengikutnya Ki Ageng Selo) dalam rangka memohon keselamatan dari sambaran petir.
Masyarakat tradisional membutuhkan kisah-kisah supranatural dalam tradisi lisan sebagai bentuk perlawanan terhadap tradisi tulis kerajaan. Hal itu karena sangat minimnya kemampuan literasi masyarakat bawah tradisional saat itu.
Hal itu diungkapkan Ketua Jurusan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta Muhamad Iqbal Birsyadha, Minggu 19 April 2026, usai mengisi webinar daring yang diselenggarakan oleh MGMP Sejarah dan AGSI Provinsi Jawa Tengah yang diikuti ratusan peserta.
Menurut Iqbal, kisah supranatural dipakai oleh masyarakat tradisional untuk memberikan rasa kebanggaan terhadap legitimasi pemimpin atau tokoh-tokoh pujaannya.
"Pola pikir dan struktur berpikir masyarakat Jawa itu meliputi tiga tahapan: Imanen, Eksistensial dan Esensial-Manunggaling Kawula Gusti. Pertama biasanya berguru, belajar, baik lalu mencari makna hidup bahkan sering kali terperosok dan terpuruk dan diakhiri dengan hakikat pokok dan perilaku utama. Hampir semua tokoh seperti itu," jelas Iqbal.
Maka, tambahnya, bagi pendidik dan pemerhati sejarah lokal tidak boleh mengabaikan kisah-kisah supranatural seperti yang banyak berkembang di masyarakat tradisional.
"Saya mengacu pada sejarawan Husein Jaya Diningrat bahwa kisah-kisah tradisional tidak boleh diabaikan. Hanya memang perlu kritik sumber dan verifikasi yang mendalam. Biasanya dari kisah itu ada nilai utama yang ingin ditanamkan pada masyarakat," tambah Iqbal.
Selain itu, genealogi atau aspek keturunan juga menjadi arus utama masyarakat Jawa. Karenanya ia menganggap tidak aneh jika Ki Ageng Selo disebut sebagai leluhur trah Mataram Islam.
"Acuannya rata-rata dari turunan Brawijaya V sebagai raja terakhir Majapahit. Mulai dari Raden Patah, Joko Tingkir sampai Panembahan Senopati semuanya berujung pada turunan Brawijaya V. Bahkan termasuk Presiden Prabowo saat ini, juga acuannya dari trah Banyumas melalui jalur Raden Baribin," tandas doktor kelahiran Batang itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....