Sejarah Purbalingga dalam Catatan Serdadu Belanda

  • 22 Agt 2026 18:31 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga - Komunitas Historia Perwira kembali menggelar diskusi. Kali ini konsepnya adalah Bedah Buku tentang Sejarah Purbalingga.

"Buku yang kita bedah berjudul 'De Hinderlaag bij Sindoeradja : Militaire Acties op Java, 1948-1950 atau Penyergapan di Sinduraja' karya Luitenant Hans Gerritsen, Serdadu Belanda yang penah berdinas di Purbalingga pada era Agresi Militer II," ujar Gunanto Eko Saputro, founder Historia Perwira usai diskusi di Kedai Pojok Taman Kota pada Jumat ( 21/8/2026) Malam.

Sebagai informasi, Sinduraja saat ini adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kaligondang.Gunanto, yang juga pemantik diskusi memaparkan bahwa buku itu merupakan literatur penting kesejarahan Purbalingga. Selain bercerita tentang tugasnya dalam aksi militer di Purbalingga dan sekitarnya, Letnan Hans juga berkisah tentang kehidupan sehari-hari 'Wong Braling'.

Tentu saja ada kisah pertempuran dan aksi militer di berbagai wilayah Purbalingga. Lalu, mengenai budaya, tradisi, cara berpakaian, mitos, legenda yang dipercaya masyarakat.

Ada juga cerita mengenai jongos, kuli dan babu yang membantu mereka, sampai 'Landa Ireng' yang bekerja untuk mereka sebagai mata-mata. Kemudian, Letnan Hans juga banyak bercerita kekagumannya tentang keindahan alam Purbalingga yang katanya bak Surga.

"Jadi, buku itu tak hanya berkisah peristiwa Rabu, 30 Maret 1949, di mana satu peleton pasukan yang dipimpinnya disergap di Sindoeradja, tetapi Letnan Gerritsens juga mencatat Purbalingga pada masa itu yang kita sendiri hampir tidak punya arsip sejarahnya," imbuhnya.

Achmad Sirojudin, pemantik dskusi dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Purbalingga menyambut baik diskusi tersebut. Menurutnya, buku itu perlu diterjemahkan dan diterbitkan untuk menambag khasanah referensi Sejarah Purbalingga.

Afit Susanto, pemantik diskusi lainnya menilai isi buku itu sangat menarik. "Banyak peristiwa yang diceritakan mbah-mbah saya tentang Perang Kemerdekaan divalidasi oleh buku ini," katanya.

Sementara itu, Kisnandi Bayu, aktivitas muda Purbalingga menambahkan bahwa arsip-arsip Sejarah Purbalingga sangat minim. "Justru kita banyak insight dari arsip-arsip Belanda yang tentu saja dari POV mereka," katanya.

Bayu berharap acara tidak hanya berhenti di diskusi tetapi ada tindaklanjut nyata, seperti penerjemahan serta penerbitan buku, kajian dan lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....