Longsor Sangkanayu Tewaskan Satu Warga

  • 14 Apr 2026 07:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga - Suara gemuruh itu datang tanpa aba-aba. Dalam hitungan detik, dapur yang semula hangat oleh aktivitas memasak berubah menjadi titik awal duka di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Purbalingga.

Minggu (12/4/2026), dua perempuan, Yanti dan Kasini, tengah beraktivitas seperti biasa. Namun, dari lereng setinggi sekitar 12 meter di belakang rumah, material longsor tiba-tiba runtuh. Yanti, istri Yono, tak sempat menyelamatkan diri dan meninggal dunia di lokasi. Sementara Kasini, istri Sugiatno, mengalami luka pada bagian kaki.

Peristiwa ini tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memaksa tiga keluarga Sunaryo, Sugiatno, dan Yono meninggalkan rumah mereka. Total 11 jiwa kini mengungsi ke tempat yang lebih aman, setelah dua rumah mengalami kerusakan berat dan satu lainnya rusak sedang.

Sehari setelah kejadian, Senin (13/4/2026), Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bersama istri, Syahzani, datang langsung ke lokasi. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi upaya memastikan bahwa penanganan berjalan cepat dan menyentuh kebutuhan warga.

“Kami dari pemerintah daerah siap mensupport berbagai hal yang dibutuhkan, mengingat akibat bencana ini ada kerusakan hingga korban jiwa,” ujar Fahmi di hadapan warga terdampak.

Pemerintah daerah menyalurkan bantuan berupa uang tunai, logistik, hingga peralatan, bekerja sama dengan PMI dan Baznas. Namun, perhatian tidak berhenti pada bantuan darurat. Fahmi menegaskan, langkah lanjutan juga disiapkan, mulai dari pembersihan material longsor hingga perbaikan rumah warga.

“Kami juga akan membantu perbaikan rumah, terutama dapur dan kamar mandi agar bisa segera digunakan kembali,” tambahnya.

Hasil kajian tim geologi Universitas Jenderal Soedirman memperkuat kekhawatiran itu. Lereng di lokasi dinilai labil, tersusun dari bongkahan batu dengan lapisan tanah tipis. Anggota tim, Egy Erzagian, merekomendasikan penanganan cepat melalui terasering serta pembersihan material yang tidak stabil.

Longsor ini sendiri dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut, diperparah kondisi lereng bekas galian tambang tradisional. Kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia menjadikan kawasan itu rawan bencana.

Kini, proses pembersihan material masih menunggu kondisi tanah benar-benar stabil. Pemerintah melalui BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan terus berkoordinasi, berpacu dengan waktu untuk memulihkan kondisi sekaligus mencegah bencana susulan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....