BPBD Banyumas Perkuat Mitigasi Bencana di Sekolah, 67 Sekolah Rawan Banjir
- 01 Apr 2026 14:16 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas terus mendorong penguatan mitigasi bencana di lingkungan sekolah. Berdasarkan kajian risiko bencana tahun 2025, terdapat tujuh potensi bencana yang mengancam wilayah Banyumas.
Mulai dari tanah longsor, banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, hingga letusan gunung api. Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banyumas, Iqbal Arief Riyanto, mengungkapkan bahwa pihaknya juga telah memetakan kerentanan di sektor pendidikan.
Hasilnya, sebanyak 67 sekolah di Banyumas diketahui rawan terhadap bencana banjir. “Pada tahun 2024, tercatat ada 10 sekolah terdampak bencana, baik akibat cuaca ekstrem maupun longsor. Jumlah itu meningkat pada tahun 2025 menjadi 14 sekolah,” katanya.
Iqbal menekankan pentingnya kesiapsiagaan mandiri di lingkungan sekolah. Ia mencontohkan hasil studi dari Jepang yang menunjukkan bahwa sekitar 90 persen korban selamat dalam bencana disebabkan oleh evakuasi mandiri serta bantuan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Hal tersebut menjadi dasar penerapan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diatur dalam Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019. Program ini mencakup tiga pilar utama, yakni fasilitas aman, manajemen bencana, serta pendidikan pengurangan risiko bencana yang melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga masyarakat sekitar.
Pada tahun 2025, BPBD Banyumas telah melakukan evaluasi terhadap 165 sekolah. Hasilnya menunjukkan capaian pada aspek fasilitas aman sebesar 62 persen, manajemen bencana 31 persen, sementara pendidikan pengurangan risiko bencana masih menjadi aspek yang perlu ditingkatkan.
Dari sisi edukasi, BPBD juga активно menggelar sosialisasi dan pelatihan. Sepanjang 2024, terdapat 12 kegiatan yang melibatkan lebih dari 3.000 peserta.
Angka tersebut meningkat signifikan pada 2025 dengan 22 kegiatan yang menjangkau sekitar 9.000 peserta. Selain itu, sebanyak 28 sekolah telah menjalin kerja sama dengan BPBD dalam upaya penguatan kesiapsiagaan.
Ke depan, BPBD Banyumas berencana memperluas program SPAB dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk KSR PMI Universitas Jenderal Soedirman. hal itu dilakukan untuk membentuk dua sekolah aman bencana baru di wilayah Kedungbanteng dan Melung.
Dalam implementasinya, BPBD menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya soal sarana fisik, tetapi juga sistem dan sumber daya manusia. Sekolah diharapkan memiliki tim siaga bencana, jalur evakuasi yang memadai, standar operasional prosedur (SOP) kedaruratan, hingga integrasi materi kebencanaan dalam kurikulum.
Kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka dan Palang Merah Remaja juga dinilai penting dalam mendukung kesiapan siswa. Namun demikian, masih ditemukan sejumlah kendala di lapangan, seperti sempitnya akses evakuasi yang berpotensi menghambat proses penyelamatan saat kondisi darurat.
Selain itu, kesiapan menghadapi kebakaran juga menjadi perhatian, termasuk penyediaan alat pemadam sederhana. BPBD Banyumas mengimbau seluruh pihak sekolah untuk meningkatkan kewaspadaan dan memiliki “sense of safety”.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....