Meraih Inner Peace melalui Kedamaian Ajaran Islam
- 28 Mar 2026 11:56 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Di tengah memanasnya situasi geopolitik dunia, nilai-nilai kedamaian yang diajarkan Islam menjadi sangat relevan untuk direnungkan kembali. Afaf Mujahidah, M.A., akademisi dari Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) UIN Saizu Purwokerto dalam program Cafe Ramadhan Pro 2 Purwokerto pada Sabtu (7/3/2026) menyoroti hal tersebut.
Afaf Mujahidah menekankan bahwa secara etimologis, Islam berasal dari kata "Salama" yang berarti keselamatan atau kedamaian. Menurutnya, tugas setiap Muslim tidak hanya memastikan keselamatan diri di dunia dan akhirat, tetapi juga menyebarkan kedamaian kepada seluruh makhluk di bumi.
| Baca juga: Karakteristik Agama Islam |
Langkah awal untuk menyebarkan kedamaian adalah dengan mencapai ketenangan di dalam diri sendiri atau inner peace. Afaf menjelaskan bahwa ibadah seperti shalat dan puasa merupakan sarana utama untuk berserah diri kepada Allah.
Puasa, khususnya, mengajarkan manusia untuk menahan diri dari berbagai nafsu, termasuk menjaga lisan dari perilaku negatif di media sosial. Ia juga menambahkan bahwa dzikir bukan sekedar rutinitas setelah shalat, melainkan upaya menghadirkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitas sehari-hari.
| Baca juga: Cap Go Meh Perkuat Toleransi Banyumas |
"Menghadirkan Allah dalam setiap tindak tanduk kita adalah jalan termudah untuk mendapatkan kedamaian diri," ungkapnya.
Menanggapi tantangan keberagaman di Indonesia, Afaf Mujahidah menyoroti pentingnya toleransi baik secara internal (sesama umat Islam yang berbeda mazhab) maupun eksternal (antarumat beragama). Ia memperkenalkan teori "Tiga Jalur Dialog" untuk membangun keharmonisan:
- Dialog Hati (Dialog of the Heart): Berdialog dengan tujuan mengenal perspektif orang lain dan menekan ego, bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah.
- Dialog Kepala (Dialog of the Head): Implementasi pemahaman toleransi ke dalam kebijakan yang lebih luas, seperti konsep moderasi beragama.
- Dialog Tangan (Dialog of the Hand): Kerja nyata secara bersama-sama dalam hal yang bermanfaat bagi bangsa, contohnya gerakan berbagi takjil atau buka puasa bersama lintas kelompok.
Sebagai penutup, Afaf mengajak masyarakat, khususnya generasi muda (Gen Z), untuk menghormati perbedaan perspektif. Ia merujuk pada teladan Nabi Muhammad SAW saat menyusun Piagam Madinah yang menjamin keselamatan seluruh warga, termasuk kaum Yahudi dan Nasrani, untuk hidup berdampingan secara damai.
"Jika kita berislam secara sungguh-sungguh, kita harus mampu menaklukkan nafsu dan ego kita untuk kemudian membawa kedamaian itu keluar bagi alam semesta," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....