Ketua PCNU Banyumas: Ujung Ramadan Jadi Momentum Evaluasi Diri

  • 17 Mar 2026 10:33 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, umat Islam mulai bersiap menyambut Hari Raya Idulfitri. Momen ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga sebagai waktu untuk melakukan refleksi diri atas perjalanan ibadah selama sebulan penuh.

Ketua PCNU Kab. Banyumas, Drs. H. Imam Hidayat, M.Pd, mengatakan Ramadan sejatinya merupakan proses pendidikan spiritual yang bertujuan membentuk pribadi yang lebih baik dan bertakwa. Menurutnya, ibadah puasa yang dijalankan selama Ramadan merupakan perintah Allah yang sekaligus menjadi sarana pembinaan diri bagi umat Islam.

Melalui puasa, umat Islam dilatih untuk meningkatkan kejujuran, disiplin, semangat beribadah, serta kepedulian terhadap sesama.

“Ketika kita melaksanakan puasa, tujuan akhirnya adalah menjadi orang yang bertakwa. Makna takwa ini bisa dimaknai sebagai upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Imam.

Imam juga menambahkan, menjelang berakhirnya Ramadan, umat Islam perlu melakukan muhasabah atau evaluasi diri untuk melihat sejauh mana tujuan tersebut telah tercapai. Evaluasi ini penting agar nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadan benar-benar membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Imam Hidayat menilai tradisi Lebaran di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Terutama melalui budaya halal bihalal dan silaturahmi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Menurutnya, tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam mampu berkolaborasi dengan budaya lokal secara harmonis. Bahkan, suasana Lebaran di Indonesia kerap dirasakan oleh berbagai kalangan, tidak hanya umat Islam.

“Silaturahmi saat Lebaran bukan sekadar pertemuan fisik, tetapi menjadi momentum untuk saling memaafkan, melepas beban, dan memperkuat persaudaraan,” katanya.

Ia juga menilai tradisi kebersamaan yang hidup di masyarakat, termasuk di wilayah Banyumas, menjadi kekuatan sosial yang penting. Kebiasaan berkumpul, makan bersama, dan saling berkunjung saat Lebaran mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Imam Hidayat menambahkan bahwa momen Lebaran dapat menjadi sarana memperkuat persatuan dan kebersamaan. Setelah menjalani Ramadan dengan berbagai aktivitas ibadah dan kebersamaan keluarga, Lebaran menjadi awal untuk membangun kembali hubungan yang lebih harmonis antar sesama.

“Dengan saling memaafkan, beban yang ada bisa dilepaskan. Yang tersisa adalah persaudaraan, kekompakan, dan persatuan yang menjadi modal penting dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya kembali.

Ia juga mengingatkan agar nilai-nilai positif yang diperoleh selama Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. Sikap disiplin, kepedulian sosial, dan empati terhadap sesama diharapkan tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, pengalaman menahan lapar dan dahaga selama Ramadan seharusnya menumbuhkan empati terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan.

“Nilai-nilai kebaikan yang dilatih selama Ramadan harus terus dijaga pada sebelas bulan berikutnya. Dengan begitu, Ramadan benar-benar menjadi pendidikan sepanjang hayat untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....