Ketua Komisi C DPRD Jateng, Generasi Z Purwokerto Melek Demokrasi

  • 07 Mar 2026 16:19 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bambang Haryanto Bachrudin ( BHB), mengaku bangga terhadap pemahaman demokrasi yang dimiliki para siswa SMA Negeri 1 Purwokerto. Hal tersebut disampaikannya usai berdialog dengan para pelajar dalam kegiatan bertema “Demokrasi di Era Digital” yang digelar di Hetero Space Purwokerto, Sabtu (7/3/2026) siang.

BHB menilai generasi muda, khususnya Generasi Z, ternyata memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai demokrasi. Hal itu terlihat dari antusiasme serta berbagai pertanyaan yang disampaikan para siswa dalam diskusi tersebut.

Menurutnya, selama ini Generasi Z kerap diasosiasikan sebagai kelompok yang apolitis dan kurang memiliki kepekaan sosial. Namun pengalaman berdialog langsung dengan para siswa justru menunjukkan hal yang berbeda.

Dirinnya menilai semangat dan pemahaman para pelajar tersebut, menjadi optimisme bagi masa depan demokrasi di Indonesia. Sehingga menjadi penyemat untuk melakukan pendidikan politik di berbagai wilayah di daerah pemilihannya.

“Kami melihat pemahaman anak-anak terhadap demokrasi relatif sudah cukup baik. Antusiasme mereka memberikan semangat bagi kami untuk terus memberikan pendidikan politik, sehingga kualitas demokrasi di Indonesia dapat semakin meningkat,” kata Bambang.

BHB menambahkan, kegiatan seperti ini penting untuk mendorong generasi muda memahami demokrasi tidak hanya secara teori. Tetapi juga melalui praktik partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Yang terpenting adalah bagaimana mereka memaknai demokrasi. Salah satu unsur utama demokrasi adalah partisipasi. Karena itu kami ingin mendorong mereka sejak dini agar memiliki kepedulian dan keinginan berkontribusi, baik di masyarakat, pemerintahan maupun di lingkungan generasinya,” jelasnya.

Diskusi tersebut diikuti puluhan siswa SMA Negeri 1 Purwokerto. Selain Bambang, kegiatan ini juga menghadirkan Guru Besar FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Prof Ali Rahman, serta peneliti dari LPPSLH Purwokerto, Barid Hardiyanto.

Dalam pemaparannya, Ali Rahman menjelaskan bahwa perkembangan demokrasi saat ini tidak dapat dipisahkan dari peran media sosial yang semakin besar dalam memengaruhi opini publik.

Prof Ali Rahman mencontohkan munculnya slogan “No Viral No Justice” yang menunjukkan bagaimana media sosial mampu mendorong perhatian publik terhadap suatu persoalan.

Namun demikian, ia mengingatkan para pelajar agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. “Teman-teman SMA harus bisa memastikan apakah sumber informasi itu terverifikasi atau tidak. Jangan langsung membagikan informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu,” ujar Ali Rahman.

Sementara itu, Barid Hardiyanto menilai era digital justru membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya. Melalui media sosial, seseorang dapat menyuarakan aspirasi tanpa harus selalu melakukan aksi turun ke jalan.

Meski demikian, Barid menegaskan aksi demonstrasi tetap menjadi bagian penting dari demokrasi, terutama jika aspirasi yang disampaikan tidak mendapatkan respons.

“Penggunaan media sosial dan aksi demonstrasi bisa saling melengkapi. Demonstrasi biasanya menjadi langkah terakhir jika aspirasi yang disampaikan tidak ditanggapi,” kata Barid.

Dalam diskusi tersebut, belasan siswa SMA Negeri 1 Purwokerto turut menyampaikan pertanyaan dan pandangannya. Selain membahas perkembangan demokrasi di era digital, para siswa juga menyoroti maraknya ujaran kebencian di media sosial yang dinilai dapat mengganggu kualitas demokrasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....