Kesiapsiagaan Banyumas Hadapi Puncak Musim Hujan

  • 09 Feb 2026 08:33 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Pemerintah Kabupaten Banyumas meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim hujan yang berlangsung pada Januari hingga Februari. Dalam Dialog Kentongan RRI Purwokerto, Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banyumas, Awal Sudiono, menyampaikan bahwa wilayah Banyumas rawan bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

BPBD terus melakukan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan, terutama di wilayah lereng dengan kemiringan tinggi. Awal Sudiono menjelaskan tanda-tanda longsor yang perlu diwaspadai, antara lain munculnya retakan tanah, mata air tiba-tiba berwarna keruh, serta dinding lereng yang tampak mengembung.

Untuk banjir, masyarakat diminta waspada jika hujan turun lebih dari tiga jam, khususnya di wilayah Kemranjen, Tambak, dan Sumpiuh. BPBD mengimbau warga memantau informasi melalui media sosial dan grup WhatsApp desa serta segera melapor jika ada tanda bahaya. 

“Kalau ada tanda-tanda yang akan menimbulkan longsor, segera lapor ke pemerintah desa,” kata Awal Sudiono.

Camat Kemranjen, Ika Suprihatin, S.STP mengatakan wilayahnya termasuk daerah rawan bencana dengan potensi banjir dan longsor. Dari 15 desa di Kecamatan Kemranjen, sebagian berada di daerah rawan longsor dan sebagian lainnya rawan banjir. 

“Di tahun 2024 kami sudah ada pembentukan Desa Tangguh Bencana atau Destana, kemudian ada juga pembentukan Kecamatan Tangguh Bencana,” kata Ika.

Selain itu, pemerintah kecamatan dan desa melakukan sosialisasi, pelatihan, serta membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Jalur evakuasi dan titik kumpul juga telah disiapkan di balai desa maupun tingkat RT dan RW. 

BPBD juga mengimbau warga agar tidak bertahan di rumah saat banjir mulai terjadi. Mengingatkan juga supaya warga tetap berada di pengungsian hingga kondisi benar-benar aman untuk mencegah risiko banjir susulan.

“Sebaiknya itu kita evakuasi ke tempat yang lebih aman.” kata Awal. 

Masyarakat diimbau menyiapkan tas siaga bencana berisi obat-obatan, makanan instan, pakaian, serta dokumen penting. Selain itu, kesadaran menjaga lingkungan menjadi perhatian utama. 

Sebagai penutup, Awal Sudiono menekankan bahwa kejadian banjir kebanyakan dikarenakan pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya. Sementara Ika Suprihatin mengajak warga aktif melapor melalui grup komunikasi desa dan tetap menjaga kekompakan menghadapi musim hujan.

Bencana tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat dikurangi dengan kesiapsiagaan dan kerja sama antara pemerintah serta masyarakat. Kewaspadaan, laporan cepat, dan kepedulian menjaga lingkungan menjadi kunci utama menghadapi puncak musim hujan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....