BPBD Banyumas Waspadai Potensi Karhutla Selama Musim Kemarau
- 15 Jul 2026 08:30 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dengan potensi kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Staff Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Banyumas, Muhammad Aremas Abdullah Putra, S.M., mengatakan musim kemarau di Banyumas diperkirakan berlangsung selama lima hingga tujuh bulan ke depan. Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
"Berdasarkan prediksi terbaru dari BMKG, potensi kekeringan pada tahun 2026 lebih tinggi dibandingkan kondisi normal dibandingkan kondisi normal banyak di wilayah Indonesia. Untuk di Jawa Tengah sediri, terutama Kabupaten Banyumas, musim kemarau diprediksi bisa sampai lima sampai tujuh bulan ke depan," ujar Aremas, Selasa (14/7/2026).
Berdasarkan data kejadian bencana tahun 2023–2024, wilayah yang tergolong rawan karhutla meliputi Kecamatan Lumbir, Patikraja, Gumelar, Purwojati, Kebasen, Wangon, Ajibarang, Kalibagor, dan Sokaraja. Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran, telah tercatat sekitar 12 kejadian kebakaran.
Menurut Aremas, kebakaran hutan dan lahan umumnya dipicu oleh faktor manusia dan faktor alam. Kelalaian seperti membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan masih menjadi penyebab utama. Di sisi lain, vegetasi yang mengering, suhu udara tinggi, dan angin kencang turut mempercepat penyebaran api.
"Faktor manusia sendiri seperti membakar sampah serta membuang puntung rokok sembarangan. Sehingga merembet sampai ke hutan dan lahan. Ditambah lagi ada faktor alam, kondisi vegetasi yang kering, suhu udara tinggi, dan angin kencang, sehingga mempercepat penyebaran api," ucapnya.
Sebagai upaya mitigasi, BPBD Banyumas telah melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Selain itu, BPBD juga rutin melakukan pemantauan di wilayah rawan bencana.
Pada 25 Juni 2026, BPBD bersama BMKG, TNI, Polri, pemerintah desa, dan instansi terkait menggelar rapat koordinasi untuk memetakan daerah rawan kekeringan dan karhutla, menyusun strategi distribusi air bersih, menyepakati standar operasional prosedur (SOP) penanganan bencana, serta memperkuat peran aktif relawan dan masyarakat.
Aremas menambahkan, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat akibat asap yang ditimbulkan. Asap tersebut berpotensi menyebabkan iritasi mata hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Ia pun mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah kebakaran selama musim kemarau.
"Kami mengajak kepada masyarakat untuk berperan aktif, mulai dari menghemat air, tidak membakar sampah sembarangan, lalu apabila menemukan tanda-tanda kekeringan dan api atau karhutla dapat segera menghubungi BPBD Banyumas," tutur Aremas. (Artika).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....