Gerakan Save Slamet: Isu Lingkungan Lereng Gunung Slamet
- 31 Jan 2026 10:05 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Isu lingkungan, hak asasi manusia (HAM), dan mitigasi bencana di kawasan Gunung Slamet menjadi pembahasan dalam Academic Forum Pro 2 RRI Purwokerto. Diskusi tersebut mengangkat gerakan Save Slamet sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kerusakan lingkungan di lereng Gunung Slamet.
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman sekaligus peserta DIKPOL FNF Indonesia, M. Yusuf Habibi, menyampaikan bahwa Gunung Slamet memiliki potensi sumber daya alam, termasuk panas bumi, yang kerap dikaitkan dengan proyek energi. Namun, menurutnya, pemanfaatan sumber daya tersebut tidak boleh hanya dilihat dari sisi ekonomi.
“Ketika kita bicara tambang atau proyek energi, jangan hanya melihat keuntungan. Ada lingkungan, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat lereng gunung yang juga harus dilindungi,” ujarnya.
Habibi menegaskan, kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Slamet dapat berdampak langsung pada pemenuhan hak dasar masyarakat, seperti hak atas air bersih, kesehatan, rasa aman, serta keberlanjutan mata pencaharian. Ia mencontohkan terganggunya mata air yang dapat memicu gagal panen, menurunnya sektor pariwisata, hingga meningkatkan risiko bencana longsor.
Dalam konteks HAM, ia menilai negara memiliki kewajiban utama untuk melindungi lingkungan hidup sebagai bagian dari perlindungan warga negara. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, disebut harus memastikan kebijakan pengelolaan lingkungan dijalankan secara bertanggung jawab dan transparan, termasuk melalui penerapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
“AMDAL seharusnya menjadi syarat mutlak, bukan sekadar formalitas. Jika dipaksakan, dampaknya justru akan merugikan masyarakat,” katanya.
Selain itu, Habibi mendorong penguatan mitigasi bencana berbasis masyarakat, terutama di wilayah rawan seperti lereng Gunung Slamet. Ia menyebut peran mahasiswa penting melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat agar hasil kajian akademik dapat berdampak langsung.
Habibi mengajak generasi muda untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing, baik melalui kajian kebijakan, inovasi teknologi, edukasi lingkungan, maupun kampanye di media sosial. Menurutnya, gerakan kolektif seperti Save Slamet diperlukan agar suara masyarakat lebih didengar dalam menjaga lingkungan dan keselamatan bersama. (Dinda)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....