Resiliensi: Kemampuan untuk Bangkit dari Kesulitan

  • 29 Jan 2026 07:14 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Ketangguhan di masa sulit menjadi hal yang semakin relevan ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah seperti Purbalingga, Pemalang, dan kawasan Guci Tegal. Bagi mereka yang terdampak langsung, bencana membawa kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian hidup.

Sementara bagi masyarakat yang tidak berada di wilayah bencana, persoalan yang dihadapi bisa berbeda bentuknya, mulai dari tekanan ekonomi, kecemasan akan keselamatan, hingga rasa tidak aman terhadap masa depan. Situasi ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, meskipun tingkat dan bentuknya tidak selalu sama.

Diungkapkan Imam Faisal Hamzah, S.Psi.,MA dalam Ruang Psikologi Pro 1, bahwa kondisi seperti ini, resiliensi atau ketangguhan menjadi kunci penting dalam menjalani kehidupan. Resiliensi tidak sekadar dimaknai sebagai kemampuan bertahan di tengah kesulitan, tetapi juga sebagai kemampuan untuk bangkit kembali, beradaptasi, dan melanjutkan hidup meskipun berada dalam situasi yang sulit. Resiliensi membantu seseorang menerima kenyataan, memahami keterbatasan yang ada, serta mencari cara baru untuk menata kembali kehidupannya setelah mengalami keterpurukan.

“Resiliensi pada dasarnya merupakan sebuah keterampilan, bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Setiap manusia dianugerahi akal dan pikiran yang memungkinkan mereka belajar dari pengalaman, mengelola emosi, dan menemukan cara bertahan hidup sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Oleh karena itu, resiliensi dapat dilatih dan dikembangkan melalui proses belajar, refleksi diri, serta pengalaman hidup sehari-hari,” lanjutnya.

Orang yang memiliki resiliensi yang baik bukan berarti tidak pernah merasa sedih, marah, atau takut. Perasaan-perasaan tersebut tetap hadir sebagai bagian dari reaksi manusiawi terhadap masalah dan bencana. Namun, pada individu yang resilien, emosi negatif tersebut tidak menghentikan langkah hidupnya. Ada kesadaran bahwa hidup harus terus berjalan, sehingga perlahan mereka mampu bangkit, menata kembali harapan, dan melanjutkan kehidupan dengan cara yang lebih adaptif.

Ketika bencana terjadi, rasa takut dan cemas seringkali menjadi masalah utama yang dirasakan masyarakat. Ketakutan akan kehilangan, keselamatan diri, serta masa depan yang tidak pasti dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Di sinilah resiliensi berperan penting, yaitu membantu individu mengelola rasa takut tersebut, menerima keadaan dengan lebih tenang, serta membangun kembali kepercayaan diri untuk menghadapi hari-hari berikutnya.

Pada akhirnya, ketangguhan di masa sulit bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang menghadapi cobaan, tetapi juga tentang bagaimana ia memaknai pengalaman tersebut dan belajar untuk tumbuh darinya. Resiliensi menjadi bekal penting bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, baik yang bersumber dari bencana alam maupun dari persoalan sehari-hari, agar tetap mampu menjalani kehidupan dengan harapan dan keberanian. (Silma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....