Serikat Pekerja Kampus Soroti Ketimpangan dan Solidaritas

  • 15 Okt 2025 14:50 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Purwokerto: Kerentanan pekerja kampus masih menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya terselesaikan di lingkungan perguruan tinggi Indonesia. Serikat Pekerja Kampus menilai banyak tenaga pendidik dan kependidikan belum sejahtera secara finansial maupun non-finansial saat ini(15/10/2025).

Serikat Pekerja Kampus, Luthfi Kalbu Adi, S.H.,M.H., menyoroti pekerja yang mencari sampingan karena tekanan ekonomi keluarga. Ia menegaskan pentingnya kesejahteraan non-finansial, termasuk lingkungan kerja aman dari candaan seksis dan diskriminasi.

“Sejahtera itu sejahtera finansial dan non-finansial ya. Menemukan banyak dosen-dosen nentendik yang digaji di bawah UMR gitu," ujarnya.

Serikat Pekerja Kampus mengakui, belum ada kasus advokasi yang berhasil hingga tingkat pengadilan, namun proses pendampingan terus dilakukan. SPK memandang keberhasilan bukan semata hasil akhir, melainkan proses membantu pekerja kampus mendapatkan keamanan dan kenyamanan bekerja.

Melalui layanan konsultasi dan asistensi pengaduan, SPK berupaya menjadi wadah bagi para pekerja kampus yang mengalami persoalan di tempat kerja. Menurutnya, advokasi adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen bersama seluruh anggota serikat.

“Kami pun juga menyampaikan kepada para pengadu yang namanya avokasi itu proses bukannya hasil. Kita hanya bisa mengupayakan, mengiktiharkan karena hasil itu ada di luar kendali kita,” ujarnya menambahkan.

Pada tahun 2024, SPK dilibatkan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi X DPR RI yang membahas kesejahteraan kampus. Keterangan yang disampaikan SPK saat forum tersebut dijanjikan akan menjadi pertimbangan dalam pembaruan kebijakan terkait kesejahteraan kampus.

Ia berkomitmen mendampingi setiap pekerja kampus hingga proses advokasi selesai, meskipun telah menggunakan jasa pengacara. Pendampingan dilakukan sebagai bentuk solidaritas agar para pekerja merasa tidak sendirian menghadapi persoalan hukum dan ketenagakerjaan.

SPK berharap semakin banyak pekerja kampus yang menyadari pentingnya solidaritas dan kekuatan kolektif dalam perjuangan. Menurutnya, berserikat adalah kunci untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan secara berkelanjutan di lingkungan kampus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....