Menuju Porprov Jateng 2026, Banyumas Siap Perbaiki Peringkat

  • 09 Apr 2026 14:43 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyumas mulai mematangkan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026 yang akan digelar di Semarang Raya pada Oktober mendatang. Pada ajang ini, Banyumas diperkirakan akan mengirim sekitar 543 atlet beserta pelatih dan ofisial.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan bahwa meski kondisi keuangan daerah kurang ideal karena efisiensi, pemerintah daerah tetap memberikan dukungan anggaran untuk Porprov 2026. Namun, ia mengingatkan agar keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan turunnya prestasi.

Ia juga meminta dukungan dari berbagai pihak, mulai dari dunia pendidikan, instansi pemerintah, hingga sektor swasta. Bentuk dukungan yang diharapkan antara lain pemberian dispensasi latihan, izin mengikuti training center (TC), serta jaminan tidak adanya pemotongan hak bagi atlet maupun pelatih yang berstatus karyawan.

“Saya meminta kepada pimpinan perguruan tinggi, kepala sekolah, kepala instansi, maupun pimpinan perusahaan, memberikan dukungan penuh terhadap atlet dan pelatih. Bentuk dukungan itu mencakup dispensasi latihan, izin training center (TC), hingga jaminan tidak ada pemotongan hak bagi atlet atau pelatih yang berstatus karyawan,” kata Bupati dalam audiensi persiapan Porprov di Pendopo Si Panji Purwokerto, Rabu (8/4/2026).

Selain itu, Bupati menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara prestasi olahraga dan pendidikan. Atlet yang masih berstatus pelajar maupun mahasiswa diharapkan tetap mendapatkan kemudahan agar kegiatan latihan tidak mengganggu capaian akademik.

Ia juga mendorong sekolah, khususnya tingkat SMA/SMK, untuk mulai membuka kelas olahraga sebagai bagian dari pembinaan atlet sejak dini. Menurutnya, keberhasilan atlet juga akan membawa dampak positif bagi nama baik sekolah dan daerah.

“Kita harus mempermudah mereka. Kalau atlet meraih medali, sekolah juga ikut mendapat nama baik, daerah juga ikut terangkat,” kata Sadewo.

Audiensi persiapan Porprov ini menjadi langkah awal dalam membangun kesiapan secara sistematis. Pemerintah daerah dan KONI mulai memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor pendidikan, kesehatan, keamanan, hingga dunia usaha.

Ketua Umum KONI Banyumas, Arie Suprapto, menyampaikan bahwa fokus utama saat ini adalah memperkuat koordinasi lintas lembaga. Hal ini penting agar atlet yang berasal dari sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintah, maupun perusahaan dapat mengikuti program latihan tanpa terkendala administrasi.

Ia menambahkan, Banyumas menargetkan peningkatan peringkat pada Porprov 2026. Sebagai perbandingan, pada Porprov 2018 Banyumas berada di peringkat 5 dengan raihan 50 medali emas, sementara pada Porprov 2023 turun ke peringkat 8 dengan 29 emas.

Untuk mencapai target tersebut, KONI akan memperkuat pembinaan, meningkatkan koordinasi dengan cabang olahraga, serta memutakhirkan program latihan. Di sisi lain, jumlah kontingen yang meningkat signifikan juga menjadi tantangan tersendiri.

Jika pada Porprov sebelumnya jumlah atlet sekitar 318 orang, maka pada Porprov 2026 diperkirakan meningkat menjadi 543 atlet dan ofisial. Kenaikan ini berdampak langsung pada kebutuhan anggaran pembinaan.

Menurut Arie, keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama, meskipun dukungan dari DPRD melalui pokok pikiran (pokir) sudah cukup membantu.

“Kendala utama masih soal anggaran pembinaan. Meski bantuan pokir DPRD cukup besar, kebutuhan sekarang jauh lebih meningkat karena jumlah kontingen bertambah,” ujarnya.

Audiensi ini juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X, Dinporabudpar Banyumas, hingga organisasi olahraga seperti Kormi, NPCI, dan SOlna. Dari kalangan perguruan tinggi, hadir sejumlah kampus seperti Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dan UIN Saizu Purwokerto.

Tak hanya itu, puluhan kepala sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK, baik negeri maupun swasta, juga turut dilibatkan, termasuk sekolah berbasis pesantren dan boarding school.

“Pelibatan sekolah dan swasta sebagai penyiapan rantai dukungan atlet secara menyeluruh, mulai dari pembinaan usia dini, penyediaan ruang latihan, hingga jaminan dispensasi bagi atlet yang masih berstatus pelajar atau pekerja,” ujar Arie.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....