Kemarau Tingkatkan Risiko ISPA, Masyarakat Diminta Waspadai Debu
- 12 Agt 2026 09:15 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Musim kemarau dengan kondisi udara yang lebih kering dan terik dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi tersebut membuat debu lebih mudah beterbangan dan virus lebih mudah terbawa angin.
Dokter Spesialis Paru, dr. Cempaka Nova, Sp.P (K), FISR, MM mengatakan, paparan debu dan kondisi udara yang kering dapat memengaruhi daya tahan tubuh. Selain itu, virus penyebab infeksi juga lebih mudah menyebar melalui udara.
“Musim kemarau itu kan soalnya kan lebih kering ya udaranya kering dan mataharinya terik gitu dengan kondisi seperti itu otomatis debu-debu akan banyak yang berterbangan nah dari debu itu bisa menurunkan daya tahan tubuh kemudian virus-virus juga mudah terbawa angin jadi mudah menularkan ke orang lain,” katanya.
Ia menjelaskan, ISPA ringan umumnya ditandai dengan gejala seperti pilek, flu, pusing, dan badan terasa lemas. Namun, masyarakat perlu segera mendapatkan penanganan medis apabila mengalami gejala yang lebih berat, terutama demam tinggi dan sesak napas.
“Kalau demam tinggi harus segera langsung dibawa ke rumah sakit apalagi jika sudah lebih dari 40 derajat dan pada anak-anak kemudian terdapat sesak napas sesak napas itu harus segera Tidak menunggu memberat,” ujarnya.
Untuk mencegah ISPA selama musim kemarau, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat, mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan air putih, serta menggunakan masker. Khusus pekerja lapangan dan pengendara, penggunaan masker medis atau masker respirator dinilai lebih tepat untuk mengurangi paparan debu.
Menurut dr. Cempaka, etika batuk juga perlu diterapkan untuk mencegah penularan kepada orang lain. Masyarakat dianjurkan menutup mulut dan hidung menggunakan bagian atas lengan baju ketika batuk atau bersin.
Ia menambahkan, pneumonia atau yang kerap disebut paru-paru basah masih dapat sembuh total apabila mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat. Namun, keterlambatan penanganan pada kasus berat dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa. (Dina Darozatun)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....