Dosen Unsoed Soroti Pentingnya Gizi Bagi Lansia
- 29 Jun 2026 15:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Indonesia secara resmi telah memasuki fase penuaan penduduk (aging population) sejak tahun 2021. Fenomena demografi ini menuntut kesiapan lintas sektor, terutama intervensi gizi, guna memastikan lonjakan populasi lanjut usia (lansia) tidak menjadi beban nasional, melainkan bertransformasi menjadi aset bangsa yang tangguh dan mandiri.
Hal tersebut dipaparkan oleh Dosen Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ernis Asanti, S.Gz., M.Si., dalam dialog Indonesia Sehat Pro 1 FM RRI Purwokerto pada Jumat, 19 Juni 2026. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Ernis menyebutkan persentase lansia di Indonesia menyentuh angka 10,8 persen pada 2021 dan meningkat hingga kisaran 12 persen pada tahun 2024.
| Baca juga: Tetap Bugar meski Usia Bertambah |
Menurut Ernis, tantangan terbesar saat ini adalah ketimpangan antara Angka Harapan Hidup (AHH) dan Angka Harapan Hidup Sehat (AHHS). "Di Indonesia AHH mencapai 73 tahun, namun AHHS hanya sekitar 62 tahun, artinya apa? 9 sampai 10 tahun terakhir lansia hidup dalam kondisi sakit atau memerlukan bantuan," jelas Ernis.
Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan fisiologis alami, seperti penurunan sensitivitas saraf sensorik, kehilangan gigi geligi, hingga penyusutan massa otot (sarcopenia). Untuk mencegah lansia jatuh dalam kondisi ketergantungan fisik, asupan gizi makro seperti protein serta mikronutrien seperti kalsium dan vitamin D harus dipenuhi secara presisi.
Ernis juga membeberkan fakta unik mengenai tren status gizi masyarakat modern. Pada fase pra lansia (usia sebelum 60 tahun), mayoritas masyarakat justru mengalami kelebihan gizi akibat pergeseran gaya hidup minim gerak (sedentary lifestyle) dan tingginya konsumsi makanan ultra proses (ultra processed food).
Kondisi kelebihan gizi ini memicu penyakit degeneratif kronis, yang lambat laun justru merosotkan status gizi mereka menjadi gizi kurang saat memasuki usia tua. Guna mendeteksi risiko penyakit degeneratif secara dini di rumah, Ernis menyarankan metode paling sederhana yang dapat diaplikasikan masyarakat secara mandiri, yakni dengan mengukur lingkar perut.
"Ketika lingkar perut pria itu lebih dari 90 sentimeter, itu sudah warning, itu artinya sudah sangat berisiko untuk mengalami penyakit degeneratif, kalau untuk perempuan di angka 80 sentimeter," ungka Ernis. Di samping pemenuhan asupan nutrisi dan modifikasi tekstur makanan yang lebih lunak, dukungan psikologis dari internal keluarga dinilai memegang peranan yang sangat vital untuk menjaga nafsu makan serta kualitas hidup lansia.
"Menua itu pasti, tapi menua dengan sehat itu pilihan yang bisa kita usahakan dari sekarang, mulai dari piring makan kita, dukungan keluarga, serta lingkungan yang mendukung," pungkas Ernis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....